SEBUAH NOVEL PERJUANGAN DARI YAHYA SINWAR - 5/3

 

Episode sebelumnyaDari situlah letupan awal dimulai, dan perlahan—namun pasti— sel-sel perlawanan mulai tumbuh: kelompok-kelompok kecil dari Fatah, dari Front Rakyat, menyusup ke dalam denyut kamp-kamp pengungsian, mengakar dalam luka dan kelaparan, hingga mereka menjelma bara yang tak lagi bisa dipadamkan.

Baca episode sebelumnya ...

Suatu pagi—sementara kami berdiri dalam barisan upacara sekolah, angin hari itu biasa saja, tetapi dada kami—seolah menanti sesuatu yang tak terucap. Tiba-tiba, terdengar kegaduhan, lalu ledakan suara-suara— nyaring, tegas, dan menggelegar: "Dengan jiwa, dengan darah, kami tebus engkau, wahai Palestina!", "Dengan jiwa, dengan darah, kami tebus engkau, wahai Palestina!”. Seruan itu mengalir laksana arus sungai yang lepas dari bendungan. Satu sekolah keluar, lalu sekolah lain menyusul, hingga semua bergabung dalam samudra manusia— lautan anak-anak dan remaja yang meneriakkan cinta yang tidak bisa dibungkam. Kami berpawai bersama, dada membusung oleh rasa yang belum kami kenali sebelumnya: keagungan, kemenangan, dan tawa yang bercampur air mata.

Hari itu—adalah Perang Karameh, hari ketika para pejuang Palestina di Yordania berhasil memukul mundur serangan pasukan Israel di front Yordania. Itulah untuk pertama kalinya—sejak luka mendalam yang disebut Naksa pada tahun 1967, rakyat Arab bisa mengangkat kepala mereka, dan berseru bukan dalam duka, melainkan dalam kemenangan. Demonstrasi itu membanjiri jalan-jalan sempit kamp pengungsian. Kami membawa bendera merah, putih, hijau, dan hitam— berkibar seperti peluru melintasi langit luka. Kami bernyanyi, kami menjerit, kami pulang— namun jiwa kami tidak pernah kembali seperti sebelumnya.

Sebuah babak baru telah terbuka atas nama kehormatan yang kini menjadi nyala di dalam dada kami. Di sanalah, di tepi timur Sungai Yordan, para gerilya mendirikan kemah, dan dari sana pula, peluru-peluru pertama ditembakkan kembali— bukan untuk mundur, tetapi untuk berkata kepada dunia: Palestina belum mati.

Menjelang sore hari itu, seperti biasa, aku duduk bersama Kakek di sudut halaman rumah— di pojok yang menghadap ke jalan sempit, tempat para lelaki kampung biasa berkumpul, bertukar cerita, menggulung hari dengan kopi pahit dan obrolan yang mengendap seperti bara di dada.

Hari itu, wajah-wajah mereka berbeda. Ada kilau lain di mata mereka. Senyum-senyum yang menggantung di sudut bibir, dan kepalan tangan yang terasa ingin meletuskan sesuatu ke langit. Kata-kata yang biasa pun berubah: "Revolusi Palestina, "Pasukan Pembebasan Palestina Fatah”, nama-nama yang tak sekadar diucap, tetapi mulai mengalir dalam darah mereka seperti doa lama yang akhirnya dikabulkan.

Dan aku, anak kecil yang duduk di antara kaki-kaki tua itu, mendengar dengan mata terbuka dan jantung berdebar. Salah satu dari mereka—berkulit keriput dan suaranya serak seperti tanah yang lama tak hujan—berkata: "Yā ‘ammī, inilah ucapan yang benar. Tanah tak akan dibajak, kecuali oleh anak lembunya sendiri!". Yang lain mengangguk-angguk dengan kepala berat: "Dulu kita menggantungkan nasib kita pada tentara-tentara Arab—dan kita kalah. Sekarang, baru sekali kita angkat senjata sendiri, kita menang... meski senjata kita lemah, meski tangan kita kosong”. Dan seperti gelombang yang bergerak serempak, semua kepala ikut mengangguk, mata-mata mereka mengerjap, seolah akhirnya mereka melihat arah mata angin baru— bukan dari istana-istana Arab, tetapi dari jantung rakyatnya sendiri.

Dalam hari-hari yang menyusul, derap langkah para fedayeen semakin kencang menggema di tanah yang dirampas—di jantung Tepi Barat dan Gaza. Seolah kemenangan dalam Pertempuran Karamah, pertempuran kemuliaan meniupkan ruh baru ke dada para lelaki, membangkitkan mereka dari lumpur kekalahan menuju bukit harapan yang menyala.

Ibuku, seperti biasa, berkata sambil mengaduk panci tanah liat: "Pejuang di tanah ini... tetap akan menjadi pejuang”.  Dan ucapannya bukan sekadar kata-kata, melainkan mantra hidup yang bersaksi pada sejarah dan nyawa-nyawa yang bersiap digadaikan demi tanah yang tak mereka tinggalkan.

***

Aparat intelijen penjajah rupanya telah mencium bau bara yang menyala dari kamp kami Kamp Syati’, mereka tahu... banyak dari operasi perlawanan di Gaza bersumber dari sini, dari lorong-lorong sempit kami, dari wajah-wajah yang kelaparan namun menyimpan tekad baja. Maka diberlakukanlah jam malam. Kali ini berbeda. Bukan sehari, bukan dua hari—tapi tiga minggu lebih, bahkan melewati batas sebulan penuh. Bayangkan hidup di bawah langit yang tak boleh kau langkahi, di rumah yang tak boleh kau tinggalkan, di lorong-lorong yang membeku tanpa suara anak-anak, di malam-malam yang lapar dan siang-siang yang panjang tak berujung.

Kamp ini, kamp kami, terkurung dalam senyap dan kekejaman. Langitnya tetap biru, tapi dadanya sesak. Dan aku belajar— bahwa di tanah ini, bahkan diam pun bisa bernapas perlawanan.

Hidup terus mengalir seperti biasa, hanya beberapa puluh meter dari tempat kami terkurung. Seakan tragedi tak menyentuh batas kota, seakan Gaza terbagi oleh benang tak kasat mata antara yang tertindas dan yang tetap berjalan.

Adzan Dzuhur menggema dari menara-menara masjid, mengiris langit kota seperti pedang cahaya, menyentuh hati siapa pun yang masih punya detak iman. Masjid al-‘Abbas, yang berdiri kokoh di jantung Gaza di Jalan Umar al-Mukhtar—denyut nadi kehidupan kota— menjadi tempat tumpahnya langkah para lelaki dan pemuda, mereka datang dalam ketundukan, untuk menyambut panggilan langit dengan dahi yang akan menyentuh debu bumi.

Di sana, hidup seolah tidak koyak, orang-orang melangkah, berdoa, berbicara... sementara di sisi lain tembok dan gang sempit kamp kami, kami masih dalam kungkungan, dalam kelaparan, dalam gelisah yang tak kunjung padam.

Usai shalat, berdirilah seorang pemuda di hadapan jamaah — seorang pemuda tanggung, baru menjejak usia dua puluhan, namun keyakinannya menyalip usia dan pengalaman. Ia memulai dengan pujian kepada Allah, bershalawat kepada Rasul-Nya, lalu suaranya menggelegar seperti drum di dada langit.

Ia bicara kepada kaum lelaki yang baru saja menunduk kepada Tuhan, membangkitkan dalam dada mereka bara keberanian dan kebajikan, menggugah hati-hati mereka dengan jeritan sunyi dari saudara-saudaranya di Kamp al-Syathi’, kamp yang telah digilas dengan pembatasan gerak lebih dari sebulan lamanya. Seorang lelaki tua bertanya dengan getir, “Lalu apa yang bisa kami lakukan, nak?”. Pemuda itu, dengan sorot mata api dan suara membelah ragu, menjawab, “Paling tidak, kita turun ke jalan! Kita tunjukkan bahwa kita bukan batu mati!. Setidaknya satu gema solidaritas untuk saudara-saudara kita yang dilumat diam-diam oleh kesewenangan!”.

Seisi masjid pun meledak seperti ombak yang tak terbendung. Mereka menyerbu keluar dengan takbir yang menggetarkan langit Gaza. Beberapa dari mereka mengangkat pemuda itu ke atas pundak— dan ia pun memekik di atas mereka seperti panji di medan juang: "Dengan jiwa dan darah kami, kami tebus engkau, wahai Palestina!", "Kami semua Palestina—baik pendatang maupun warga!"

Mulailah orang-orang bergabung, satu demi satu, lalu berombak dalam arus massa— menjadi lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan kota. Jalan-jalan Gaza yang hanya selempar batu dari kamp, mendadak menggeliat oleh irama kaki dan degup dada yang satu niat.

Di kejauhan, kendaraan-kendaraan tentara pendudukan mengintai seperti serigala lapar dari balik kabut, mengawasi dengan waspada, namun tak bergerak, karena semangat yang membara tak bisa mereka redam tanpa membakar seluruh kota.

Lalu, ketika matahari mulai condong dan gema takbir perlahan mereda, massa pun bubar, bukan karena lelah, melainkan karena mereka telah menunaikan sebagian dari apa yang diperintahkan suara hati mereka: "Kami tidak akan diam". 

Dan pagi pun datang— dengan fajar yang kali ini terasa lebih jernih, lebih lapang.
Maka tiba-tiba, seperti doa yang dikabulkan dari langit, suara pengeras pun berkumandang: “Telah dicabut larangan keluar-masuk Kamp al-Syathi’”. Dan kehidupan di kamp kembali bergulir, meski luka-luka belum benar-benar mengering.

Pagi hari kami berdiri berbaris di halaman sekolah, angin semilir menyapu wajah-wajah kecil yang masih setengah terjaga. Beberapa gerakan senam ringan membuka tubuh kami, lalu seorang murid naik ke anak tangga batu—itu mimbar kecil kami— dan menyampaikan kata-kata pagi yang dipenuhi harapan dan semangat kanak-kanak.

Kemudian, satu per satu barisan mulai bergerak menuju kios susu— sebuah ruang terbuka yang dikelilingi tiga dinding batu dan beratapkan lembaran seng berkarat. Di atas pelataran semen yang tinggi berdiri barisan meja logam, di belakangnya empat pria dengan abrohoulat biru yang longgar, dan kopiah putih menutupi rambut mereka yang tertib. Kami masuk satu demi satu, dalam barisan yang diawasi guru-guru kami, dan setiap dari kami menerima, dengan tangan kecil yang menggigil bukan karena dingin semata, sebutir kapsul minyak ikan yang mereka minta kami telan di tempat. Kemudian, kami diberi secangkir besi berisi susu hangat, yang mengepul pelan di udara pagi yang masih belum terbuka sepenuhnya. Kami meneguknya, seolah meneguk kekuatan untuk bertahan, di tengah dunia yang tidak selalu ramah bagi anak-anak kamp, tetapi yang masih menyisakan secercah kasih dari tangan-tangan yang diam-diam mencintai.

Kami meminum susu itu—hangatnya mengalir di tenggorokan yang belum sempat benar-benar sarapan, lalu meletakkan cangkir-cangkir besi kami ke dalam belanga besaryang penuh air mendidih, seakan membersihkan jejak pagi dari mulut ratusan anak yang serupa dan berbeda sekaligus.

Setelah itu, kami beringsut meninggalkan antrean, masuk ke kelas-kelas kami yang sederhana, ruang-ruang pengap penuh harapan dan suara-suara kecil yang belajar bermimpi. Seluruh sekolah, semua murid di setiap sekolah milik UNRWA— hari demi hari, minum susu dan menelan kapsul minyak ikan dengan rutinitas yang tak berubah.

Kami membenci minyak ikan itu dengan kebencian yang tak mengenal ampun. Ia adalah musuh pahit di awal pagi kami. Namun guru-guru kami berdiri tegak, mata mereka mengawasi, jangan sampai ada yang menyelundupkan pil kecil itu ke tanah atau ke saku baju. Mereka memaksa kami menelannya, dan mendesak kami untuk segera meneguk susu, lalu menuju kelas— seperti pasukan kecil yang digiring menuju medan belajar.

 

Bersambung BAB 6

Penulis : Nidda, Editor : Shofi





Post a Comment

Lebih baru Lebih lama