Suatu
pagi—sementara kami berdiri dalam barisan upacara sekolah, angin hari itu biasa
saja, tetapi dada kami—seolah menanti sesuatu yang tak terucap. Tiba-tiba,
terdengar kegaduhan, lalu ledakan suara-suara— nyaring, tegas, dan menggelegar:
"Dengan jiwa, dengan darah, kami tebus engkau, wahai Palestina!",
"Dengan jiwa, dengan darah, kami tebus engkau, wahai Palestina!”. Seruan
itu mengalir laksana arus sungai yang lepas dari bendungan. Satu sekolah
keluar, lalu sekolah lain menyusul, hingga semua bergabung dalam samudra
manusia— lautan anak-anak dan remaja yang meneriakkan cinta yang tidak bisa
dibungkam. Kami berpawai bersama, dada membusung oleh rasa yang belum kami
kenali sebelumnya: keagungan, kemenangan, dan tawa yang bercampur air mata.
Hari
itu—adalah Perang Karameh, hari ketika para pejuang Palestina di Yordania
berhasil memukul mundur serangan pasukan Israel di front Yordania. Itulah untuk
pertama kalinya—sejak luka mendalam yang disebut Naksa pada tahun 1967, rakyat
Arab bisa mengangkat kepala mereka, dan berseru bukan dalam duka, melainkan
dalam kemenangan. Demonstrasi itu membanjiri jalan-jalan sempit kamp
pengungsian. Kami membawa bendera merah, putih, hijau, dan hitam— berkibar
seperti peluru melintasi langit luka. Kami bernyanyi, kami menjerit, kami
pulang— namun jiwa kami tidak pernah kembali seperti sebelumnya.
Sebuah
babak baru telah terbuka atas nama kehormatan yang kini
menjadi nyala di dalam dada kami. Di sanalah, di tepi timur Sungai Yordan, para gerilya mendirikan kemah, dan
dari sana pula, peluru-peluru pertama ditembakkan kembali— bukan untuk mundur, tetapi
untuk berkata kepada dunia: Palestina belum mati.
Menjelang
sore hari itu, seperti biasa, aku duduk bersama Kakek di sudut halaman rumah— di
pojok yang menghadap ke jalan sempit, tempat para lelaki kampung biasa
berkumpul, bertukar cerita, menggulung hari dengan kopi pahit dan obrolan yang
mengendap seperti bara di dada.
Hari
itu, wajah-wajah mereka berbeda. Ada kilau lain di mata mereka. Senyum-senyum
yang menggantung di sudut bibir, dan kepalan tangan yang terasa ingin
meletuskan sesuatu ke langit. Kata-kata yang biasa pun berubah: "Revolusi
Palestina, "Pasukan Pembebasan Palestina Fatah”, nama-nama yang
tak sekadar diucap, tetapi mulai mengalir dalam darah mereka seperti doa lama yang
akhirnya dikabulkan.
Dan
aku, anak kecil yang duduk di antara kaki-kaki tua itu, mendengar dengan mata
terbuka dan jantung berdebar. Salah satu dari mereka—berkulit keriput dan
suaranya serak seperti tanah yang lama tak hujan—berkata: "Yā ‘ammī, inilah
ucapan yang benar. Tanah tak akan dibajak, kecuali oleh anak lembunya
sendiri!". Yang lain mengangguk-angguk dengan kepala berat: "Dulu
kita menggantungkan nasib kita pada tentara-tentara Arab—dan kita kalah. Sekarang,
baru sekali kita angkat senjata sendiri, kita menang... meski senjata kita
lemah, meski tangan kita kosong”. Dan seperti gelombang yang bergerak
serempak, semua kepala ikut mengangguk, mata-mata mereka mengerjap, seolah
akhirnya mereka melihat arah mata angin baru— bukan dari istana-istana Arab, tetapi
dari jantung rakyatnya sendiri.
Dalam
hari-hari yang menyusul, derap langkah para fedayeen semakin kencang menggema di
tanah yang dirampas—di jantung Tepi Barat dan Gaza. Seolah kemenangan dalam Pertempuran
Karamah, pertempuran kemuliaan meniupkan ruh baru ke dada para lelaki, membangkitkan
mereka dari lumpur kekalahan menuju bukit harapan yang menyala.
Ibuku,
seperti biasa, berkata sambil mengaduk panci tanah liat: "Pejuang di tanah
ini... tetap akan menjadi pejuang”. Dan
ucapannya bukan sekadar kata-kata, melainkan mantra hidup yang bersaksi pada
sejarah dan nyawa-nyawa yang bersiap digadaikan demi tanah yang tak mereka
tinggalkan.
***
Aparat
intelijen penjajah rupanya telah mencium bau bara yang menyala dari kamp kami Kamp
Syati’, mereka tahu... banyak dari operasi perlawanan di Gaza bersumber
dari sini, dari lorong-lorong sempit kami, dari wajah-wajah yang kelaparan
namun menyimpan tekad baja. Maka diberlakukanlah jam malam. Kali ini
berbeda. Bukan sehari, bukan dua hari—tapi tiga minggu lebih, bahkan melewati
batas sebulan penuh. Bayangkan hidup di bawah langit yang tak boleh kau
langkahi, di rumah yang tak boleh kau tinggalkan, di lorong-lorong yang membeku
tanpa suara anak-anak, di malam-malam yang lapar dan siang-siang yang panjang
tak berujung.
Kamp
ini, kamp kami, terkurung dalam senyap dan kekejaman. Langitnya tetap biru, tapi dadanya sesak. Dan aku belajar— bahwa di tanah ini, bahkan diam pun bisa
bernapas perlawanan.
Hidup
terus mengalir seperti biasa,
hanya beberapa puluh meter dari tempat kami terkurung. Seakan tragedi tak
menyentuh batas kota, seakan Gaza terbagi oleh benang tak kasat mata antara yang
tertindas dan yang tetap berjalan.
Adzan
Dzuhur menggema dari menara-menara masjid, mengiris langit kota seperti pedang cahaya,
menyentuh hati siapa pun yang masih punya detak iman. Masjid al-‘Abbas, yang
berdiri kokoh di jantung Gaza di Jalan Umar al-Mukhtar—denyut nadi
kehidupan kota— menjadi tempat tumpahnya langkah para lelaki dan pemuda, mereka
datang dalam ketundukan, untuk menyambut panggilan langit dengan dahi yang akan
menyentuh debu bumi.
Di
sana, hidup seolah tidak koyak, orang-orang melangkah, berdoa, berbicara... sementara
di sisi lain tembok dan gang sempit kamp kami, kami masih dalam kungkungan,
dalam kelaparan, dalam gelisah yang tak kunjung padam.
Usai
shalat, berdirilah seorang pemuda di hadapan jamaah — seorang pemuda tanggung,
baru menjejak usia dua puluhan, namun keyakinannya menyalip usia dan
pengalaman. Ia memulai dengan pujian kepada Allah, bershalawat kepada
Rasul-Nya, lalu suaranya menggelegar seperti drum di dada langit.
Ia
bicara kepada kaum lelaki yang baru saja menunduk kepada Tuhan, membangkitkan
dalam dada mereka bara keberanian dan kebajikan, menggugah hati-hati mereka
dengan jeritan sunyi dari saudara-saudaranya di Kamp al-Syathi’, kamp
yang telah digilas dengan pembatasan gerak lebih dari sebulan lamanya. Seorang
lelaki tua bertanya dengan getir, “Lalu apa yang bisa kami lakukan, nak?”. Pemuda
itu, dengan sorot mata api dan suara membelah ragu, menjawab, “Paling tidak,
kita turun ke jalan! Kita tunjukkan bahwa kita bukan batu mati!. Setidaknya satu gema solidaritas untuk saudara-saudara kita yang dilumat
diam-diam oleh kesewenangan!”.
Seisi
masjid pun meledak seperti ombak yang tak terbendung. Mereka menyerbu keluar
dengan takbir yang menggetarkan langit Gaza. Beberapa dari mereka mengangkat
pemuda itu ke atas pundak— dan ia pun memekik di atas mereka seperti panji di
medan juang: "Dengan jiwa dan darah kami, kami tebus engkau, wahai
Palestina!", "Kami semua Palestina—baik pendatang maupun
warga!"
Mulailah
orang-orang bergabung, satu demi satu, lalu berombak dalam arus massa— menjadi
lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan kota. Jalan-jalan Gaza yang hanya
selempar batu dari kamp, mendadak menggeliat oleh irama kaki dan degup dada
yang satu niat.
Di
kejauhan, kendaraan-kendaraan tentara pendudukan mengintai seperti serigala
lapar dari balik kabut, mengawasi dengan waspada, namun tak bergerak, karena
semangat yang membara tak bisa mereka redam tanpa membakar seluruh kota.
Lalu, ketika matahari mulai condong dan gema takbir perlahan mereda, massa pun bubar, bukan karena lelah, melainkan karena mereka telah menunaikan sebagian dari apa yang diperintahkan suara hati mereka: "Kami tidak akan diam".
Dan
pagi pun datang— dengan fajar yang kali ini terasa lebih jernih, lebih lapang.
Maka tiba-tiba, seperti doa yang dikabulkan dari langit, suara pengeras pun
berkumandang: “Telah dicabut larangan keluar-masuk Kamp al-Syathi’”. Dan
kehidupan di kamp kembali bergulir, meski luka-luka belum benar-benar
mengering.
Pagi
hari kami berdiri berbaris di halaman sekolah, angin semilir menyapu
wajah-wajah kecil yang masih setengah terjaga. Beberapa gerakan senam ringan
membuka tubuh kami, lalu seorang murid naik ke anak tangga batu—itu mimbar
kecil kami— dan menyampaikan kata-kata pagi yang dipenuhi harapan dan semangat
kanak-kanak.
Kemudian,
satu per satu barisan mulai bergerak menuju kios susu— sebuah ruang terbuka
yang dikelilingi tiga dinding batu dan beratapkan lembaran seng berkarat. Di
atas pelataran semen yang tinggi berdiri barisan meja logam, di belakangnya
empat pria dengan abrohoulat biru yang longgar, dan kopiah putih
menutupi rambut mereka yang tertib. Kami masuk satu demi satu, dalam barisan
yang diawasi guru-guru kami, dan setiap dari kami menerima, dengan tangan kecil
yang menggigil bukan karena dingin semata, sebutir kapsul minyak ikan yang
mereka minta kami telan di tempat. Kemudian, kami diberi secangkir besi berisi
susu hangat, yang mengepul pelan di udara pagi yang masih belum terbuka
sepenuhnya. Kami meneguknya, seolah meneguk kekuatan untuk bertahan, di tengah
dunia yang tidak selalu ramah bagi anak-anak kamp, tetapi yang masih menyisakan
secercah kasih dari tangan-tangan yang diam-diam mencintai.
Kami
meminum susu itu—hangatnya mengalir di tenggorokan yang belum sempat
benar-benar sarapan, lalu meletakkan cangkir-cangkir besi kami ke dalam belanga
besaryang penuh air mendidih, seakan membersihkan jejak pagi dari mulut ratusan
anak yang serupa dan berbeda sekaligus.
Setelah
itu, kami beringsut meninggalkan antrean, masuk ke kelas-kelas kami yang
sederhana, ruang-ruang pengap penuh harapan dan suara-suara kecil yang belajar bermimpi. Seluruh
sekolah, semua murid di setiap sekolah milik UNRWA— hari demi hari, minum susu
dan menelan kapsul minyak ikan dengan rutinitas yang tak berubah.
Kami
membenci minyak ikan itu dengan kebencian yang tak mengenal ampun. Ia adalah
musuh pahit di awal pagi kami. Namun guru-guru kami berdiri tegak, mata mereka
mengawasi, jangan sampai ada yang menyelundupkan pil kecil itu ke tanah atau ke
saku baju. Mereka memaksa kami menelannya, dan mendesak kami untuk segera
meneguk susu, lalu menuju kelas— seperti pasukan kecil yang digiring menuju
medan belajar.
Penulis : Nidda, Editor : Shofi

Posting Komentar