Mengapa "Ru’ūsu asy-Syayāṭīn" Menjadi Fenomena? Kisah Dokter Jenius yang Bertarung Melawan "Isi Kepala"

 

Pernahkah Anda merasa terjebak dalam perang batin yang tak kunjung usai? Bayangkan tumbuh besar di antara dua kutub yang saling menghancurkan: seorang Ibu yang menuntut ketaatan religius mutlak, dan seorang Ayah yang memaksakan ideologi Marxis yang bebas. Inilah "lubang hitam" yang menghisap kewarasan tokoh utama dalam novel Ru’ūsu asy-Syayāṭīn (Kepala-Kepala Setan).

Novel ini bukan sekadar fiksi; ia adalah cermin retak dari jutaan manusia modern yang sedang berjuang dengan kesehatan mental mereka.


20 Kali Cetak Ulang dalam 2 Tahun: Apa Rahasianya?

Sejak terbit pertama kali di Yordania pada Februari 2020, karya Ayman al-Otoom ini langsung meledak. Tidak tanggung-tanggung, novel ini menduduki puncak daftar best seller di seluruh dunia Arab. Mengapa jutaan orang membacanya?

  1. Relevansi Global: Di tengah krisis kesehatan mental dunia, perjuangan tokoh utamanya terasa sangat nyata bagi siapa pun yang pernah merasa "tidak baik-baik saja".

  2. Kisah Harapan: Meski penuh kegelapan, novel ini menawarkan jalan keluar. Ini adalah tutorial tentang cara berdamai dengan keterpurukan.

  3. Kualitas Sastra Kelas Dunia: Ayman al-Otoom bukan penulis amatir. Ia adalah doktor bahasa Arab yang karyanya berkali-kali masuk nominasi penghargaan bergengsi seperti International Prize for Arabic Fiction.


Sinopsis: Ketika Halusinasi Bertemu Pengabdian

Tokoh utama dalam Ru’ūsu asy-Syayāṭīn dicitrakan sebagai seorang dokter jenius. Namun, kejeniusannya adalah pedang bermata dua. Ia disiksa oleh trauma masa kecil yang mendalam, sebuah tarik-ulur antara menghafal Al-Qur'an dan menjadi penganut ateis yang radikal.

Hasilnya? Sebuah lingkaran setan yang membelenggunya dalam perilaku merusak diri. Di satu sisi, ia berhalusinasi dan ingin bunuh diri. Di sisi lain, ia tampil sebagai pahlawan masyarakat yang menggratiskan pengobatan bagi warga miskin.

"Sebuah inovasi baru dari Dr. Ayman al-Otoom. Novel ini berkisah tentang dokter yang menderita masalah psikologis berat akibat konflik budaya dan agama orang tuanya... Sangat direkomendasikan!"Farah al-Nuaimy


Transformasi Sang Maestro: Dari Penjara Fisik ke Penjara Pikiran

Jika Anda mengenal Ayman al-Otoom lewat karya-karya sebelumnya seperti Yā Ṣāḥibayi as-Sijn, Anda akan menemukan sesuatu yang berbeda di sini.

Biasanya, Ayman menulis tentang Adab as-Sujūn atau sastra penjara, buah pengalamannya sebagai tahanan politik pada tahun 1996. Namun, dalam Ru’ūsu asy-Syayāṭīn, ia keluar dari zona nyaman. Ia tidak lagi menulis tentang tembok penjara yang dingin, melainkan tentang penjara pikiran yang jauh lebih sulit untuk didobrak.

Mengapa Bahasanya Mudah Dimengerti?

Ayman dikenal sangat aktif di kancah sastra internasional, dari Mesir hingga Qatar. Meskipun ia seorang pakar Nahwu (tata bahasa), ia memilih gaya bahasa Fusha yang elegan namun tetap renyah. Tujuannya satu: agar pesan dalam novel ini bisa dinikmati dan dipahami oleh pembaca di seluruh dunia, termasuk kita di Indonesia.


Kesimpulan: Siap Menghadapi "Setan" di Kepala Anda?

Membaca Ru’ūsu asy-Syayāṭīn adalah sebuah perjalanan eksistensial. Kita akan diajak memahami kontradiksi jiwa manusia: tentang hidup dan mati, sukses dan gagal, hingga bagaimana naluri untuk bertahan hidup bisa menang melawan keinginan untuk menyerah.

Apakah Anda tertarik untuk mendalami bagaimana sang dokter jenius ini akhirnya menemukan kebahagiaannya? Baca novel arabnya atau baca terjemahannya di sini!


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama