Selama dua tahun penuh, Abdul Ḥafīẓ terus menjalankan peran gandanya sebagai seorang buruh di siang hari, dan seorang pejuang di senyap malamnya. Ia bekerja dengan ketelitian yang nyaris seperti ritual: setiap langkah diperhitungkan, setiap gerakan diukur dengan hati-hati. Ia berhasil melancarkan sejumlah operasi perlawanan tanpa terdeteksi. Namun jejak sekecil apa pun bisa menjadi api bagi musuh yang terus mengintai dalam diam.
Penelusuran dan penyelidikan intensif yang dilakukan oleh dinas intelijen Shin Bet akhirnya mengarah padanya. Kecurigaan mengental.
Suatu malam, seisi kamp dikejutkan oleh suara sepatu tentara yang mengguncang jalanan sempit. Satu peleton pasukan pendudukan menyerbu gang tempat tinggalnya. Rumah keluarga Abdul Ḥafīẓ dikepung, pintu digedor, dan ia diseret keluar tanpa ampun.
Ia dibawa untuk diinterogasi.
Jangan tanya bagaimana malam-malamnya di ruang gelap itu. Tubuhnya digantung dengan tangan terikat di belakang, wajahnya dihantam tanpa belas kasihan, dan tubuhnya disiksa dalam sunyi yang bahkan tak sempat melahirkan jerit. Namun sepanjang waktu itu, Abdul al-Ḥafīẓ tetap teguh. Ia menyangkal segalanya. Tak satu pun dari tuduhan itu ia akui, walau darah telah mengering di sela-sela bibirnya, dan tulangnya mengadu pada malam yang membisu.
Namun akhirnya, nasib berbicara lewat mulut orang lain. Salah satu rekannya, yang lebih dulu ditangkap dan tak kuat menahan rasa sakit, menyebut namanya. Ia dihadapkan langsung kepadanya—dan saat itulah Abdul Hafīẓ hanya mengangguk, pelan dan dalam, seolah berkata, “Ya, ini aku.”
Pengadilan militer menjatuhkan hukuman: satu tahun enam bulan penjara. Tak lama, tapi cukup untuk mengoyak musim-musim, cukup untuk menyampaikan pesan bahwa perlawanan, betapa pun sunyinya, tetap terpantau oleh mata yang tak pernah tidur.
Setiap kali tahun ajaran mendekati akhirnya, dan musim panas mulai menguap di balik dinding sekolah-sekolah, hati kami pun dipenuhi getar yang lain: penantian. Itu musimnya Mahmoud kembali dari Mesir—masa libur panjang yang dinanti bukan hanya oleh keluarga, tapi oleh seluruh rumah yang seakan kehilangan cahaya selama ia tiada.
Kami mulai sering mendatangi kantor Palang Merah, tempat yang menjadi perantara antara kerinduan dan kepastian. Di sana, kami bertanya: “Kapan para mahasiswa dari Mesir akan kembali?” Kadang, kami hanya berdiri memandangi papan pengumuman, menunggu nama-nama yang turun satu per satu dari langit kertas: Daftar rombongan mahasiswa pulang kampung. Begitu nama Mahmud muncul, hati kami mekar seperti bunga yang terlalu lama ditahan musim dingin.
Dan di hari itu, hari ketika Mahmud dijadwalkan tiba, kami semua keluar rumah seperti arus yang menumpahkan harapan. Kami menuju kantor imigrasi di perbatasan—tempat bus-bus besar tiba membawa para mahasiswa yang telah selesai menempuh ujian dan rindu.
Bus-bus itu datang dalam iringan, diapit kendaraan jip militer. Para mahasiswa turun, satu per satu, memasuki gedung imigrasi. Di ruang tunggu, mereka duduk. Lalu keluarga mereka—seperti kami—melonjak dari tempat duduk, menerjang jarak dan sekat, mencium pipi yang lama tak disentuh, memeluk tubuh yang terasa lebih dewasa dari sebelumnya. Pelukannya hangat, meski aroma debu jalan dan keringat menempel di bajunya.
Lalu kami pulang. Bersama haru, bersama Mahmud. Rumah pun kembali bernyawa.
Tiap tahun, kami duduk di sana—di depan gedung imigrasi, seperti orang-orang yang menanti musim kembali. Kami menanti Mahmud.
Begitu ia muncul di ambang pintu, kami tak sabar lagi. Kami semua berlari ke arahnya, berlomba memeluknya. Dan ia pun menerjang kami dengan senyumnya yang penuh kerinduan, menciumi kami satu per satu, menanyakan kabar, menepuk bahu, membelai rambut—seakan ingin menebus satu tahun yang hilang dari pelukannya.
Ia mencium kening Ibu dan menggenggam tangannya yang renta. Ibu menatapnya dengan mata yang berbinar oleh air mata, bukan sedih, tapi bangga, penuh, meledak oleh cinta yang diam-diam ditabung selama berbulan-bulan. Di matanya, Mahmud bukan lagi sekadar anak lelaki, tapi kini al-bash muhándis—insinyur, harapan, putra yang akan mengangkat nama keluarga.
Meski kami hidup dalam keterbatasan dan berkawan dengan kekurangan, Ibu tetap berusaha sekuat tenaga. Ia memasak berbagai macam hidangan yang ia bisa, dengan bahan seadanya, demi menyambut kepulangan Mahmoud. Bukan hanya sebagai bentuk kehormatan, tetapi juga sebagai penawar luka setahun penuh yang diisi oleh rindu dan ketidakhadiran.
Itulah cara Ibu mencintai: dengan panci, rempah, dan air mata.
Mahmud selalu pulang membawa sesuatu untuk kami. Kadang seikat baju katun dari pabrik-pabrik Mesir yang lembut, harum, dan baru. Untuk pertama kalinya, kami mulai mengenal rasa kain yang belum pernah disentuh siapa-siapa sebelumnya, mengenal wangi yang belum dibungkus oleh keringat orang lain. Sebelumnya, pakaian kami hanyalah apa yang dibagikan oleh UNRWA atau dibeli dari pasar barang bekas, seringkali robek di ujung dan pudar warnanya.
Tapi sejak Mahmud menginjak tahun pertamanya di bangku kuliah, sesuatu berubah. Bukan hanya kain di tubuh kami, tapi juga cara kami memandangnya.
Ibu mulai memanggilnya dengan sebutan yang tak biasa kami dengar di rumah-rumah kamp pengungsian:
“Al-Bāsh Muhándis”—Tuan Insinyur.
Ia tidak menyebutnya dengan sombong, bukan pula pamer. Tapi penuh kasih. Sebutan itu adalah mahkota yang ia sematkan di kepala anaknya, mahkota dari sabar dan pengorbanan yang diam-diam ia tenun dari air mata dan kerja keras.
Dan setiap kali Ibu menyebutnya begitu, kami merasa rumah ini sedikit lebih tinggi langitnya, sedikit lebih luas dadanya.
Di sudut salah satu jalan sempit kamp, sekelompok pemuda menggelar selembar selimut hitam, yakni selimut bantuan dari UNRWA dan duduk di atasnya. Mereka memainkan kartu remi. Setiap hari, menjelang sore, mereka berkumpul di tempat yang sama, menebar canda dan adu nasib di antara lembar-lembar kartu, sebab memang tak ada hiburan lain di tempat seperti ini.
Tak ada bioskop. Tak ada taman. Bahkan suara televisi pun hanyalah milik satu dua rumah.
Mereka bermain hingga usai senja, saat langit mulai tenggelam dalam warna tembaga dan malam menjalar ke sela-sela dinding rumah. Saat itulah mereka mengumpulkan kartu, menepuk-nepuk debu dari selimut yang menghitam di ujung-ujungnya, melipatnya dengan cekatan, lalu beranjak pulang satu per satu, menyelinap ke dalam gang-gang gelap.
Sebab sebentar lagi... jam malam dimulai.
Dan dalam dunia yang dikekang oleh sirene dan senjata, bahkan permainan kartu pun harus tahu kapan waktunya menyerah pada malam.
Bersambung...
Penerjemah : Nidda, Editor : Sabilillah

Posting Komentar