| Informasi Cerpen | Keterangan |
|---|---|
| Jenis Karya | Cerpen Arab (Qishah Qashirah) |
| Bahasa Asli | Bahasa Arab |
| Bahasa Terjemahan | Bahasa Indonesia |
| Tema | Sejarah / Kepahlawanan / Religi |
والي المدينة
وحدوا الله
لا إله إلا الله
صلوا على النبي
اللهم صل على النبي
تروي الروايات، وتقول الحكايات، بأن هناك
والياً يفتح في الرمل بكتاب، فيجده يضرب كفاً بكف.
وفي يوم من الأيام، قال:
كيف نضرب الكف؟ فأنا، أنا، والي المدينة،
وأمير الناس هنا، فملأ خُرجاً من الذهب، وركب فرساً وخرج ونزل إلى مصر، وكان ذا
مكانة رفيعة، إذ كانوا يستقبلونه عندما يذهب لمصر بمئة طلقة مدفع، فلما وصل، ذهب
إلى مقهى ووجدها تعجُّ بمن فيها بالحركة والنشاط، فجلس بها، وأخذ خُرجَه المملوء
بالذهب، وفرسه ووضعهما في خان، وأعطى سبعة ليرات، للإنفاق عليها لشراء شعير وتبن
وما تحتاج.
مرّت الايام، وذهبت الايام، فإذا برجل قد
طلّق زوجته، وكان هو جالساً بزاوية من زوايا المقهى، لا يعيره احد بشيء من
الاهتمام، فلما طلّق الرجل زوجته، قالوا:
* لا يوجد احسن من
الرجل الجالس بالمقهى.
* لماذا؟
لأنه
رجل عاقل، يبدو عليه انه رجل طيب.
* طيب وما شأنه
بطلاقها.
* أحضروه،
* لماذا نحضره؟
* حتى يكون
مستحلاً للزوجة المطلقة.
* وبعد ذلك؟
* وبعد ذلك - يكون
قد نام عندها ليلة، وفي الصباح يطلقها فجاءوا إليه.
(١) الرواية: حمده سالم يمين (مكفوفه) تعدت
الثمانين من ساريس / القدس سكان مخيم البقعة، آذار ١٩٧١ م
* أيها الشيخ.
* نعم، ماذا تريدون؟
* القصة وما فيها،
ان رجلاً طلق زوجته،
* وماذا تريدون
مني أن أفعل؟
* نريد منك أن
تكون مُستحلاً؟
* لماذا تريدون
مني ذلك؟
* لأنَّ الشيخ،
يقول، بأنه لا يجوز أن تعود لزوجها الأول، بدون مستحل.
* نعم، انه شيخ
عالم بأمور دينه.
فوافق
على ذلك، وذهب، ودخل عليها، وفي الصباح، قالت الزوجة له:
* أنت لي، وانا
لك، ولن اوافق على العودة لزوجي الأول.
* وماذا أفعل أنا؟
* لا تقبل بان
تطلقني.
* لماذا؟
* لأنني اريدك
زوجاً لي، ومهما الحوا عليك فقل لهم هذه زوجتي، وانا أريدها، ولن أطلقها.
فلما
اشرق الصباح، وظهر بنوره ولاح - قدموا إليه وأخذوا معهم الطعام، وقالوا إليه:
* اخرج يا شيخنا.
* إلى أين؟
* انتهت مهمتك،
وانقضى عملك.
* أي عمل؟
* ألم نقل لك انك
مستحل لها فقط.
* لا، يا سادة، يا
كرام.
* ماذا تقول؟
* أقول لكم ما
سمعتم.
* ماذا جرى لك؟
* هذه زوجتي وانا
أريد واحبها، وهي تحبني كذلك.
* من قال لك هذا؟
* ها هي اسألوها
ان شئتم.
* ما رأيك فيما
يقول هذا الرجل؟
* الصواب ما يقوله
زوجي.
* من هو زوجك؟
* هذا هو.
* هل حقاً ما
تقولين؟
* نعم هو زوجي
وحبيبي، وانا اريده ولا اقبل بغيره.
فلما
وجدوا أنه يرفض الخروج والتنازل عنها، قالوا:
* لنتركها له.
فصار
يخرج من بيته، ويعود اليها، حتى جاء يوم، حيث صار عرس في البلد فقال له:
* تفضل معنا يا
شيخ.
فذهب
معهم الى العرس، جلس الرجل واخذ يثخلف على غيره ويقول:
* الله يخلف عليك
يا فلان، الله يخلف عليك يا فلان.
وسمى
نفسه بغير اسمه.
وقال
له:
* خلَّف على فلان
الفلاني، بسبع بغال محملة ذهب، وفوقهن سبع خراف، وكان بغل عليه حمل ذهب وخروف.
وقال:
* خَلَّفوا على
فلان.
فرد
عليه:
* لعن الله لحيتك.
* لماذا؟
* أنت من اسبوع وانت شحاذ بالمقهى، وضربه كفاً فقال له:
* لا بأس، شكرا
لك، بسيطة.
فجلس
يومين، ثلاثة، وأخذ عروسه، وعاد الى بلده، وفي يوم من الايام: حمَّل سبعة بغال
ذهباً ووضع عليهن سبع خراف، وسبع عبيد، وقال لهم:
* اسألوا عن فلان
الفلاني، واذهبوا بالذهب والخراف اليه، واقطعوا اليد التي ضربتني، واعيدوها على
ظهر البغال.
فحمَّلوا
البغال كما امرهم سيدهم، وذهبوا يسألون عن دار فلان، كما اخبرهم سيدهم، فلما عرفوا
داره أنزلوا الذهب والخراف.
وقالوا:
نريد اليد التي ضربت سيدنا، واعلموه، انه والي المدينة، وقالوا له نريد قطع يدك.
فلما
عرف ذلك، قال لهم بأن يأخذوا مالا ويتركوه.
* كم تدفع؟
* خذوا ألفي ليرة.
* نحن نحمل ذهبا
كثيرا، فكيف نأخذ مالا.
ورفضوا،
وقالوا:
* ان اليد التي
ضربت والي المدينة، يجب ان تقطع من الكتف، وقطعوها، وحملوها على البغال، وعادوا
الى سيدهم.
وطار الطير والله يمسيك بالخير
Mari kita mengagungkan Allah, tiada Tuhan selain Dia. Mari kita haturkan selawat kepada Baginda Nabi. Kisah ini bermula dari sebuah riwayat lama tentang seorang Gubernur, seorang penguasa kota yang sangat berwibawa.
Kisah Sang Gubernur : Ramalan yang Meresahkan
Suatu hari, sang Gubernur mencoba meramal nasibnya sendiri menggunakan sebuah kitab pasir kuno. Namun, ia tertegun melihat hasilnya. Ramalan itu menunjukkan bahwa suatu saat ia akan berada dalam posisi yang sangat membingungkan, hingga ia hanya bisa menepuk kedua telapak tangannya sendiri tanpa daya.
Penasaran sekaligus ingin membuktikan takdirnya, ia memutuskan untuk merantau ke Mesir. Ia melepaskan jubah kebesarannya, mengisi kantong pelana kudanya dengan emas yang sangat banyak, dan berangkat seorang diri. Sesampainya di sana, ia menitipkan kuda dan harta emasnya di sebuah penginapan, lalu duduk di pojok sebuah kedai kopi yang ramai sebagai orang asing yang tak dikenal.
Menjadi Suami Penyelamat (Muhallil)
Saat ia sedang duduk terabaikan di kedai itu, warga setempat sedang sibuk mengurusi masalah perceraian seorang pria yang telah menjatuhkan talak tiga kepada istrinya. Dalam aturan mereka, perempuan itu tidak bisa kembali kepada suami lamanya kecuali ia menikah dulu dengan pria lain.
Warga melihat sang Gubernur (yang mereka kira hanyalah pengelana biasa) dan berkata, "Pria di pojokan itu kelihatannya orang yang bijak dan baik hati. Mari kita minta dia menjadi muhallil (suami perantara) agar perempuan ini bisa kembali ke suami lamanya setelah satu malam". Sang Gubernur pun setuju demi mengikuti alur takdirnya.
Cinta yang Mengubah Rencana
Namun, rencana manusia tidak selalu sama dengan kehendak hati. Setelah menikah, sang istri justru berbisik kepadanya, "Aku tidak mau kembali ke suamiku yang dulu. Aku ingin bersamamu selamanya. Jangan ceraikan aku, apa pun desakan mereka nanti".
Keesokan paginya, ketika warga datang dan menyuruhnya pergi karena tugasnya dianggap "selesai", sang Gubernur menolak keras. "Ini adalah istriku yang sah, aku mencintainya dan dia mencintaiku!" tegasnya. Karena si istri juga membela, warga pun terpaksa membiarkan mereka hidup bersama sebagai suami istri sejati.
Penghinaan di Pesta Pernikahan
Waktu berlalu, hingga ada sebuah pesta pernikahan besar di kota tersebut. Sang Gubernur yang masih menyamar sebagai rakyat biasa datang ke sana. Di tengah keramaian, ia bersikap sangat dermawan dengan mendoakan banyak orang. Ia bahkan berjanji (seolah-olah sedang menghayal) akan memberikan hadiah mewah berupa tujuh ekor hewan beban bermuatan emas kepada seseorang.
Seorang pria yang sombong berteriak menghinanya, "Kurang ajar! Baru seminggu yang lalu kamu luntang-lantung seperti pengemis di warung kopi, berani-beraninya bicara soal emas!". Pria itu pun menampar wajah sang Gubernur dengan keras di depan banyak orang. Sang Gubernur hanya tersenyum tenang dan berkata, "Tidak apa-apa, ini hanya masalah sepele".
Pembalasan yang Adil
Beberapa hari kemudian, sang Gubernur membawa istrinya pulang ke negerinya sendiri. Setibanya di sana, ia menunjukkan kekuasaannya yang asli. Ia mengirim pasukan dengan membawa tujuh ekor hewan beban penuh muatan emas dan domba untuk mencari si pria sombong tadi.
Pasukannya mendatangi rumah pria itu dan menurunkan emas-emas tersebut. Namun, mereka kemudian berkata, "Tuan kami adalah Gubernur kota ini. Emas ini adalah hadiah untukmu, tapi sebagai gantinya, kami harus membawa tangan yang telah berani menampar wajah sang penguasa". Meskipun pria itu ketakutan dan mencoba menyuap dengan uang ribuan lira, para utusan menolak. Tangan pria itu pun dipotong mulai dari bahunya sebagai ganjaran atas kesombongannya yang telah menghina martabat orang lain.
Penutup
Demikianlah kisah ini berakhir. Burung-burung telah terbang kembali ke sarangnya, dan semoga keberkahan menyertaimu di malam yang tenang ini.
Hikmah dan Pesan Moral Cerita untuk Kita:
* Jangan Menilai Buku dari Sampulnya: Seseorang yang terlihat seperti pengemis atau rakyat biasa bisa jadi adalah orang besar yang sedang menyamar atau sedang diuji nasibnya.
* Roda Kehidupan Berputar: Sang Gubernur menunjukkan bahwa kedudukan bisa dilepaskan, namun martabat dan harga diri harus tetap dijaga.
* Hati-Hati dengan Tindakan Kasar: Penghinaan fisik (seperti menampar) memiliki konsekuensi yang sangat berat, terutama jika dilakukan kepada orang yang sebenarnya berniat baik.
* Keadilan Memiliki Caranya Sendiri: Cerita ini mengajarkan bahwa kesombongan akan selalu menemukan balasannya, tidak peduli seberapa miskin atau rendah kita menganggap orang yang kita sakiti.
Cerpen ini sangat cocok bagi kamu yang sedang mendalami tarjamah atau pengalihan bahasa dari Arab ke Indonesia karena menggunakan gaya bahasa yang lugas.

Posting Komentar