Episode sebelumnya : Dan dari antara para pejuang itu, nama Abu Syarar bersinar paling terang— seorang mujahid yang meneror tidur para serdadu, yang kehadirannya menjadi mimpi buruk bagi mereka yang mencoba menguasai tanah yang bukan milik mereka. Ia adalah bayangan yang tidak bisa mereka tangkap, dan bara yang tak sanggup mereka padamkan.
Gerakan Fatah mencoba menata langkah, mengatur awal mula perlawanan di kota dan sekitarnya. Namun, keberhasilan masih bagai mimpi yang jauh— teramat terbatas, seperti cahaya redup yang berjuang menembus kabut tebal. Pasukan penjajah selalu waspada, bergerak cepat menangkap setiap kelompok yang baru saja mulai bernapas dalam semangat perlawanan, atau bahkan yang masih dalam tahap menyusun niat. Belum sempat mereka berdiri tegak, belum sempat tanah mengenali langkah mereka, sudah datang borgol dan sel penjara menghentikan segalanya. Barangkali, itulah luka lain di tubuh perjuangan: warga masih terbelenggu oleh beban hidup harian, oleh roda ekonomi yang mulai berputar lagi, oleh angan-angan keberhasilan pribadi yang meninabobokan semangat kolektif. Dan dengan itu, perlawanan belum menjelma menjadi gelombang besar— ia masih seperti bara yang tersembunyi, belum menjadi nyala yang membakar seluruh lembah.
Namun perlahan, kota mulai bergolak oleh suara-suara yang tak ingin dibungkam. Gerakan protes politik mulai tumbuh, diatur oleh para anggota pendukung Fatah— terutama di tengah para pelajar, tempat semangat muda tak sudi tunduk begitu saja. Di sisi lain, Front Pembebasan Rakyat (PFLP) pun mulai menggeliat, mencoba menyalakan api dari puing-puing kesunyian. Dan karena jalur perlawanan bersenjata belum menampakkan hasil yang nyata, maka medan perjuangan pun bergeser— menjadi politik, rakyat, dan kegiatan sosial. Demonstrasi, diskusi, dan solidaritas mulai memenuhi ruang-ruang yang semula sunyi, menghidupkan semangat yang telah lama ditekan. Paman-ku mendengarkan semua itu dengan penuh perhatian.Ia menyimak setiap kata yang diucapkan oleh suami bibiku, Abdul Fattah, yang menggambarkan situasi wilayah itu dengan detail menggetarkan— layaknya seseorang yang mencintai tanahnya, namun melihatnya terkoyak oleh pendudukan dan kebingungan. Sesekali, pamanku menyela dengan pertanyaan-pertanyaan tajam, ingin menggali lebih dalam, ingin mengurai perbedaan antara yang terjadi di Tepi Barat dan yang dialami di Gaza tercinta. Ia tidak sekadar mendengar—ia menyelami, karena di balik setiap informasi, terdapat denyut nadi bangsa yang sedang mencari arah.
Di Jalur Gaza, riak perlawanan menjelma gelombang yang semakin kokoh. Pasukan Pembebasan Rakyat mulai menghimpun barisan— mereka adalah para perwira dan pejuang yang dulu tergabung dalam Tentara Pembebasan Palestina sebelum tercerai berai dihantam badai perang 1967. Kini mereka bangkit, menjadi kekuatan perlawanan terbesar di kawasan itu. Bersamaan dengan itu, kelompok-kelompok dari Fatah dan Front Pembebasan Rakyat juga mulai mengangkat wajah mereka dari reruntuhan, menyusun sel-sel perlawanan dengan tekad yang tak padam. Secara umum, Gaza memperlihatkan wajah lain dari perlawanan— lebih berani, lebih konsisten, meski langitnya tak selalu cerah. Sebab musuh pun tak tinggal diam. Dengan segala tipu daya dan cengkeraman intelijen, mereka berhasil menggugurkan beberapa pemimpin perjuangan, mengukuhkan cengkeraman mereka di tanah yang terluka, dan menyibak sebagian rahasia perjuangan yang selama ini tersembunyi di balik dinding-dinding sunyi dan kesetiaan. Namun Gaza tetap berdiri— meski luka, meski dikepung, ia tetap menyimpan bara perlawanan di setiap pori tanahnya.
Beberapa hari setelah kepergian bibiku, beredar kabar di gang-gang sempit kampung kami: seorang perempuan ditemukan tewas—tergeletak, jasadnya membujur di sebelah barat kawasan al-Misytā. Seperti biasa jika kabar kematian menggetarkan udara, kami berdesakan pergi ke sana, terburu rasa ingin tahu, terhuyung oleh bayangan kematian yang selalu membayangi hidup kami. Dan memang, di sana tubuh itu terbaring, dingin, sunyi, ditinggal oleh nama dan harga diri. Desas-desus cepat menyebar: konon, ia seorang mata-mata… dan karena itulah ia dibunuh. Tak seorang pun berani bersuara keras, bertanya, menentang, atau bahkan menyentuh kebenaran. Namun bisik-bisik meletup di balik dinding, seperti bara yang tak bisa ditekan selamanya: “Dia bukan mata-mata…. Ada yang menyamar sebagai pejuang—berpakaian gagah, berkata lantang atas nama tanah dan kehormatan, namun mereka memangsanya… menodainya… dan karena takut terbongkar, mereka membunuhnya, lalu menuduhnya pengkhianat”. Sementara itu, dinas intelijen pendudukan terus menyusup— mengincar celah di tubuh rakyat yang lelah dan lapar. Mereka tahu betul di mana luka terbuka: kemiskinan, kekurangan, kebutuhan hidup yang tak tertunaikan. Dari situ, mereka menebar jaring. Menanam benih pengkhianat yang terlihat seperti rakyat biasa, namun sebenarnya—merekalah mata-mata sejati: mengintai pejuang, merekam langkah para perisai tanah, mencatat siapa memberi perlindungan, siapa menyembunyikan dan siapa yang menyuplai bala bantuan. Begitulah, dalam bayang-bayang revolusi, kadang musuh mengenakan wajah kita sendiri.
Pasukan pendudukan mulai menggelar penangkapan besar-besaran, menyapu para pria dan pemuda dari gang-gang sempit kampung kami. Mereka digiring ke gedung as Saraya— markas intelijen, tempat di mana bayangan menjadi cambuk dan dinding menjadi saksi bisu jerit manusia yang dipecundangi. Di sana, mereka tak disambut dengan pertanyaan, melainkan dengan tamparan, tendangan, dan makian. Begitu tiba, mata mereka dibalut kain gelap— dipaksa berdiri menghadap tembok, tangan terikat ke belakang, berjam-jam di bawah hujan yang menusuk dan dingin yang menggigit tulang. Mereka menggigil bukan hanya karena cuaca, tapi karena kengerian yang menggantung di udara, dan pasukan bergantian berjaga, menghukum setiap gerakan: tendangan bagi yang bersandar, pukulan bagi yang gemetar. Tak jauh dari sana— di ruangan yang terang dan hangat, duduklah para algojo dalam balutan wibawa palsu: para perwira Shin Bet (sebutan untuk para perwira Intelijen Israel yang tergabung dalam Badan Keamanan Israel). Mereka memanggil para tahanan satu demi satu. Mereka buka penutup mata, dan dengan sorot mata dingin, mereka menghujani mereka dengan ribuan pertanyaan— tentang diri mereka, asal kota mereka, nama-nama saudara, tetangga, bahkan siapa yang menyapa mereka di jalan. Lalu diluncurkanlah ratusan sumpah serapah, kutukan kotor yang bahkan lidah manusia waras enggan mengucap. Dengan aksen yang menyayat telinga, mereka mencabik bahasa Arab—seperti mereka mencabik kehormatan tanah ini. Kadang mereka menampar, kadang mereka bersenda seolah sahabat. Mereka bermain di antara teror dan iming-iming, mengejar satu hal: celah, retakan, titik lemah— yang bisa mereka cungkil untuk menjadikan seseorang alat pengkhianatan bagi bangsanya sendiri. Begitulah wajah pendudukan: memutarbalikkan akal, mencari pengkhianatan dari rahim penderitaan.
Sebagian pria—hatinya bergolak, terbakar oleh kehinaan yang mereka telan diam-diam, oleh penghinaan yang tak bisa mereka ludahkan, dan mereka tak mampu berbuat banyak… Sebab jika mereka memberontak, yang menanti hanyalah lebih banyak caci dan derita. Namun ada yang tak tahan, meledak dengan geraman kemarahan— ingin menerkam sampah-sampah penjajah itu. Tapi tangan mereka terikat ke belakang, dan yang mereka temukan hanyalah jurang kehinaan yang lebih dalam. Lalu ada mereka yang memilih jalan licin dan abu-abu— melewati badai dengan wajah tanpa arah. Tak mau jadi pemberontak, tak sudi jadi antek pula. Mereka hanya ingin hidup, ingin memberi makan anak-anak mereka, ingin tidur tanpa jerit dan bangun tanpa rasa takut. "Bukan urusanku”, kata mereka, "asal hidup terus mengalir… sudahlah”. Dan di antara semua itu, hanya sedikit— mereka yang menjual diri dan darahnya dengan murah, menyodorkan informasi, membocorkan nama-nama para pejuang, membuka peta jalan untuk si penjajah… dan berkata dengan lidah busuk: “Aku siap bekerja sama”. Itulah manusia yang lupa dirinya, lupa bumi tempat ia dilahirkan.
Kondisi perlawanan di
Jalur Gaza kala itu— lebih kokoh, lebih bernyawa, dan lebih garang dibandingkan di Tepi Barat. Tampaknya, rahasia
utama dari kekuatan itu terletak pada hadirnya batalion para pejuang yang dinamakan Tentara
Pembebasan Palestina— sebuah kekuatan bersenjata yang lahir dari rahim
Organisasi Pembebasan Palestina, dan dibidani oleh
tekanan diam-diam dari rezim-rezim Arab yang ingin meringankan
beban moral mereka atas Palestina. Namun sejarah
menggulungnya dalam ombak kekalahan: Perang '67 datang
bagaikan badai. Pasukan itu pun tercerai berai— sebagian gugur sebagai syuhada, sementara yang
lain—dan mereka yang terbanyak— meninggalkan Gaza menuju Mesir, atau diusir menuju padang-padang asing. Tetapi, sebagaimana bara tak mati hanya karena angin, sebagian dari mereka tetap tinggal. Mereka menyalakan kembali api perlawanan, mendirikan kekuatan yang disebut Pasukan Pembebasan Rakyat. Dari situlah letupan
awal dimulai, dan perlahan—namun pasti— sel-sel perlawanan mulai tumbuh: kelompok-kelompok
kecil dari Fatah, dari Front Rakyat, menyusup ke dalam
denyut kamp-kamp pengungsian, mengakar dalam luka dan kelaparan, hingga mereka menjelma bara yang tak lagi bisa dipadamkan.
Penulis : Nidda, Editor : Shofi

Posting Komentar