BAB 5
Datanglah bibiku Fathiyah bersama suaminya menjenguk kami. Ibu menyambutnya dengan peluk hangat dan kecupan rindu yang telah lama membara. Lalu bibiku mencium kami satu per satu, seakan mengumpulkan kami kembali dalam peluk sejarah yang belum pudar. Ibu masuk ke dalam rumah, tangannya cekatan menyiapkan tempat tidur bagi para tamu. Sambil itu, ia memanggil kakek: "Ya ‘Ammi Abu Ibrahim, bangunlah—kita kedatangan tamu!" Kakek pun keluar dari kamarnya, tubuh renta itu bergerak pelan namun penuh wibawa. Ia menjulurkan tangannya menyambut suami bibi. Sementara itu, bibiku mengangkat sebuah keranjang anyaman dari jerami, di dalamnya beberapa kantong kertas tersimpan rapi—ia ulurkan pada ibu dengan senyum penuh makna, seakan membawa bukan hanya oleh-oleh, tapi juga kenangan dan doa.
Fatimah menyiapkan teh. Hangat uapnya memenuhi ruang tamu, menyatukan aroma daun dan percakapan yang menggantung di udara. Mereka menyeruput teh perlahan—seolah menyesap kehangatan keluarga yang telah lama dinanti. Lalu, suami bibi pamit hendak melanjutkan perjalanan ke rumah paman. Katanya, bibi akan tetap bersama kami hari ini dan bermalam sampai esok, dan ia akan kembali esok hari untuk menjemput dan mengiringinya pulang. Kakek berusaha menahannya, membujuknya agar ia pun bermalam, namun ia menolak dengan hormat, katanya ada urusan yang harus segera dituntaskan. Dengan hati berat namun penuh pengertian,kakek, ibu, dan bibi mengantarnya hingga ke ambang pintu. Setelah itu, kakek kembali ke kamarnya, sedang ibu dan bibi kembali ke ruang kami— dan kami pun mengelilinginya, seperti anak-anak kecil yang haus akan dongeng, menanti cerita yang lahir dari peluk seorang ibu kedua.
Ibu
membawa keranjang itu dan mulai mengeluarkan isinya satu demi satu, dengan
tangan yang akrab menyentuh benda-benda yang sarat makna. Dalam salah satu
kantong, tersembunyi apel merah yang besar— begitu megah warnanya, seolah
datang dari negeri dongeng. Belum pernah kami melihat yang serupa, apalagi mengecapnya. Apel bukanlah buah
yang akrab di hidup kami; barangkali dua atau tiga kali saja kami merasakannya
sepanjang usia kami, dan tak pernah seelok ini rupanya. Di kantong lain, ada
buah lain lagi—namanya asing saat itu bagi lidah kecil kami. Baru saat dewasa
aku tahu: itu adalah khukh, buah persik, dengan daging yang lembut dan
wangi yang seolah mengajak langit bicara. Kantong ketiga memuat potongan susu
kering—bekal sederhana tapi berharga. Ibu memandang bibi dengan mata yang
hangat dan berkata lirih: "Ah, kau repot-repot sekali, ya
Fathiyah."
Mata
bibi Fathiyah basah seketika. Ia menjawab dengan suara bergetar: "Andai
aku bisa membantumu lebih dari ini, wahai saudariku tercinta." Lalu
ia menambahkan, dengan senyum ringan yang berusaha menyembunyikan gejolak
hatinya: "Syukurlah, keadaan keuangan suamiku kini baik-baik saja,
alhamdulillah."
Ibu
membawa buah-buahan itu keluar, lalu kembali setelah membasuhnya dengan air
yang jernih. Ia menyerahkan sebagian besar apel dan persik itu kepada Mahmoud, memintanya
mengantarkan ke kamar kakek dan kedua sepupuku. Malam pun melarutkan
waktu, namun ibu dan bibi terus berbincang, suara mereka seperti nyanyian lama
yang hanya kita dengar saat hari raya. Kami duduk mengelilingi mereka dalam
suka cita yang tak tersembunyi— karena bibi kami tercinta telah datang membawa
bukan hanya buah dan susu, tapi juga kasih yang tak pernah pudar oleh jarak
atau waktu.
Suami
bibi, Abdul Fattah, melangkah ke rumah paman kami. Di sanalah ia menghabiskan
malam, begadang bersamanya, berbincang panjang tentang keadaan di wilayah
Hebron— tentang kota, desa, dan perkampungan yang mengelilinginya, seakan
menyingkap tirai luka dari tanah yang tak pernah tidur.
Abdul
Fattah telah menyelesaikan pendidikan menengahnya beberapa tahun silam, dan sejak
itu ia membantu ayahnya di ladang dan menggembala kawanan domba. Namun, jauh di
dalam hatinya, ia menyimpan cita— ingin melanjutkan studi di salah satu
universitas di negeri Arab: di Yordania, atau mungkin di Saudi, tempat ia
berharap ilmunya bisa tumbuh seperti gandum di musim yang subur.
Paman
bertanya padanya, tentang keadaan para pejuang, para tawanan— tentang bagaimana
rakyat bertahan dalam kesempitan, tentang semangat yang masih menyala meski
sudah tiga tahun berlalu sejak pendudukan Israel. Ia ingin tahu, bukan dari
berita yang dingin, tapi dari suara yang melihat sendiri: bagaimana kehidupan
berdenyut di bawah bayang senapan, dan bagaimana hati manusia tetap memeluk
harapan meski dunia seakan menutup mata.
Sejak
pendudukan Kota Hebron, hanya beberapa hari berselang, rombongan besar para
wisatawan mulai berdatangan, menuju Al-Haram Al-Ibrahimi—makam para nabi dan
leluhur, tempat yang diyakini kaum Yahudi sebagai warisan sejarah yang tak bisa
digugat. Gelombang ini membuka celah bagi denyut ekonomi kota yang sempat
tertidur.
Para
pedagang Hebron tak tinggal diam. Mereka membuka kembali toko-toko mereka yang
berdebu, menyusun barang dagangan di etalase dengan harapan baru. Mereka mulai
menjajakan apa saja yang bisa dijual— dengan harga yang melambung, demi menebus
hari-hari kelam yang telah lewat. Bahkan mereka menjual baluth—buah
pohon ek. Orang-orang asing membelinya dengan takzim, mengira itu buah suci
dari tanah leluhur Ibrahim, seakan setiap bijinya mengandung jejak kaki seorang
nabi. Namun geliat itu tak berhenti di situ. Orang-orang Yahudi pun mulai
datang ke Hebron, bukan hanya untuk berziarah, tapi juga untuk membeli
keperluan hidup mereka: dari tukang besi hingga pedagang pasar, mereka
berbelanja dari tangan warga yang sama yang tanahnya mereka injak tanpa izin. Dan
begitulah, di tengah penjajahan, sebuah kota yang nyaris lumpuh kembali
bernapas— nafkah mengalir, ekonomi menggeliat, dan kehidupan, meski di bawah
bayang bayonet, masih mencari jalannya sendiri menuju cahaya.
Tampak
jelas bahwa para serdadu penjajah berusaha menjaga jarak— tidak terlalu bercampur
dengan warga, seakan ada garis tak kasatmata yang tak boleh dilangkahi. Dan
rupanya, hal itu bukan kebetulan, melainkan hasil dari suara yang disuarakan
dengan berani dan penuh kehormatan. Syekh al-Ja'bari, wali kota kami yang
dihormati, telah bertemu dengan para jenderal Israel sesaat setelah pendudukan.
Dalam pertemuan itu, ia tidak datang dengan senjata, melainkan dengan kata-kata
yang penuh martabat dan keberanian. Ia meminta mereka, dengan suara seorang tua
yang berbicara atas nama bangsanya: "Jangan biarkan tentara kalian
mencemari kehormatan rakyat kami, jangan sentuh harta mereka, jangan lukai
harga diri kami."
Para
pemimpin Israel, dengan Moshe Dayan di baris terdepan, memahami makna dari permintaan
itu— bukan karena kemurahan hati mereka, tetapi karena mereka tahu: sebuah kota yang dipermalukan akan melahirkan bara yang tak mudah padam. Maka,
para serdadu mereka pun menjaga batas. Interaksi mereka dengan penduduk menjadi
jarang, seperti orang asing yang berjalan di tanah yang bukan miliknya, menyadari
bahwa setiap langkah mereka diawasi sejarah, dan setiap tatapan warga menyimpan
amarah yang belum sempat menyala.
Belum
sempat rakyat terjaga dari mimpi buruk kekalahan— dari dentuman kemunduran yang
merobek harga diri dan membungkam harapan, bayang-bayang ketakutan telah
menggulung mereka seperti kabut tebal yang turun tanpa ampun. Suasana kota
diliputi kecemasan yang nyaris membatu. Ketakutan pada penjajah dan kaum Yahudi
mencengkeram dada kebanyakan orang. Begitu dalam rasa takut itu, hingga seorang
Yahudi bisa berjalan sendirian di tengah kota tanpa seorang pun yang berani
menoleh, apalagi menentangnya.
Tak
ada yang melawan, bahkan tak ada yang sekadar memikirkan perlawanan. Dan jika
pun ada satu jiwa berani yang terlintas dalam benaknya untuk melawan, rakyat di
sekitarnya akan segera menghentikannya— bukan karena setuju pada kezaliman, tetapi
karena takut akan kehancuran yang lebih besar. Mereka melindungi bukan penjajah
itu, melainkan ketakutan mereka sendiri yang telah menjelma menjadi pagar besi
di dalam hati.
Namun,
api perlawanan tak pernah benar-benar padam. Sesekali, di waktu yang tak bisa diprediksi,
terjadi letupan keberanian— tembakan senyap dari kejauhan, atau granat yang
meledak mendadak menyasar patroli-patroli penjajah di pinggiran kota, atau di
desa-desa yang mengelilingi Hebron.
Meski
banyak wilayah belum sepenuhnya dijamah oleh pasukan pendudukan, di antara
bukit-bukit dan lembah yang tersembunyi, hidup segelintir mujahid sejati— mereka
tinggal di gua-gua panjang yang menyusup ke perut gunung, menghilang dari
pandangan dunia, namun tidak dari sejarah. Dari kedalaman batu dan keheningan
malam, mereka keluar diam-diam, membawa senjata dan niat yang tak tergoyahkan, melancarkan
serangan ke jantung patroli musuh, melukai, mengguncang, dan kadang—membunuh. Kemudian
mereka lenyap kembali ke pelukan gunung, tempat yang bahkan tentara penjajah
pun enggan menyentuhnya, tak mengenalnya, tak mampu menaklukkannya. Dan dari
antara para pejuang itu, nama Abu Syarar bersinar paling terang— seorang
mujahid yang meneror tidur para serdadu, yang kehadirannya menjadi mimpi buruk bagi
mereka yang mencoba menguasai tanah yang bukan milik mereka. Ia adalah bayangan
yang tidak bisa mereka tangkap, dan bara yang tak sanggup mereka padamkan.
Penulis : Nidda, Editor : Shofi


Posting Komentar