Aku melihatnya berbicara dengan kakekku, dan mereka berdua
memanggil Hasan, lalu terlibat dalam percakapan yang penuh amarah. Kakek
berusaha membela diri, namun usahanya sia-sia. Mereka berdua mengancam dengan
tegas, mengatakan bahwa mereka akan membuat Mahmud dan Hasan menangkapnya,
mengikatnya dengan tali di tiang gazebo rumah, dan menyiksanya jika ia kembali
kabur dari sekolah.
Beberapa hari
kemudian, ibuku menemukannya—sebatang rokok dan seperempat lira tersembunyi di
saku celananya. Dengan marah, ia mengambilnya dan membawanya kepada kakek yang
sedang duduk di halaman rumah, seraya berkata, "Lihat apa yang kutemukan
di saku cucumu." Kakek memandangnya dengan terkejut, matanya menyipit, dan
ia bertanya dengan nada bingung, "Dari mana anak ini mendapatkan
uang?" Pada saat itu, ibuku berteriak memanggil Mahmud dan Hasan untuk
segera membawa Hasan, sepupuku. Mereka segera pergi, hilang sejenak, dan
kembali dengan Hasan di samping mereka.
Kakekku, yang telah
dikuasai oleh kebingungan dan keletihan, tak mampu berbuat apa-apa. Di saat
itu, ibuku mengambil alih tanggung jawab untuk menginterogasi sepupuku, Hasan.
"Dari mana kamu mendapat uang ini?" tanyanya dengan tegas. Hasan
kebingungan, "Uang apa?" jawabnya ragu. Ibuku lalu menunjukkan
seperempat lira dan rokok yang ditemukan di saku celananya. Hasan terdiam,
seolah tersungkur oleh kenyataan, seakan berkata dalam hati, "Ini
bencana." Ia mencoba mengelak, namun ibuku tak memberi kesempatan. Dengan
suara lantang, ia memerintahkan Mahmud dan Hasan untuk menahan sepupuku,
sementara ia berteriak memanggil Fathimah, "Bawa tali, Fathimah,
cepat!" Semua bergerak dengan cepat melaksanakan tugas mereka, sementara
aku, saudara laki-lakiku Muhammad, dan sepupuku Ibrahim hanya bisa mengintip
dari balik punggung kakek, dengan hati yang dipenuhi rasa takut dan kebingungan
atas apa yang sedang terjadi.
Mahmud dan Hasan
segera memegangi Hasan dan menyeretnya menuju tiang, sementara Fathimah membawa
tali, dan ibuku mulai berusaha mengikatnya ke tiang sambil terus menginterogasinya.
Ketika Hasan menyadari bahwa situasi ini serius, ia pun berteriak, "Aku
menjatuhkan setengah lira dari kakek dan aku mengambilnya!" Kakekku
terkejut mendengar pengakuan itu. "Bagaimana bisa setengah lira jatuh
dariku? Berapa banyak setengah lira yang aku punya?" tanyanya dengan
bingung. Ibuku melanjutkan interogasinya, "Di mana kamu
menemukannya?" Hasan mulai gagap, kata-katanya semakin tidak meyakinkan,
memperlihatkan bahwa ia sedang berbohong. Dengan penuh amarah, ibuku berteriak
kepada Mahmud dan Hasan untuk terus menahannya pada tiang, sambil
melambai-lambaikan tali. Lalu, Hasan pun mengaku, "Aku mengambilnya dari
kantong kakek ketika ia menggantungkan tasnya di gantungan baju, sementara dia
sedang tidur".
Ibuku berteriak,
"Kamu menyebut ini mengambil? Katakan saja, kamu mencuri dari kantong
kakek!" Ia kemudian menoleh pada kakek dan bertanya dengan nada tegas,
"Apa pendapatmu, Abu Ibrahim? Apa yang harus kita lakukan dengan anak
ini?" Kakekku hanya bisa memukul telapak tangan satu sama lain, kebingungannya
semakin jelas. Ia mengeluarkan kantong uangnya dan memeriksa isinya, hanya
menemukan setengah lira. Hasan telah mengambil setengah lainnya, yang berarti
ia telah mencuri setengah dari jatah uang keluarga. Dengan suara yang lemah,
kakek berkata, "Ikat dia pada tiang... ikat dia!".
Ibuku menatap kakek,
matanya seolah bertanya apakah ia benar-benar serius. Kakek hanya mengangguk
pelan, matanya bergerak ke arah kami, anak-anak. Seolah ia ingin mengatakan
padanya, "Anak-anak harus melihat bahwa ia dihukum atas perbuatannya,
karena jika tidak, bagaimana hal ini akan mempengaruhi mereka?".
Ibuku mengikat Hasan
ke tiang sambil meratap, menangisi nasibnya dan nasib Hasan, "Betapa
malangnya dirimu, wahai anak sang syahid! Ayahmu seorang syahid, Hasan... kau
tahu apa artinya syahid? Ayahmu seorang syahid, dan kau malah mencuri setengah
dari uang kantong kakekmu! Setengah dari jatah keluarga, Hasan! Malu padamu,
Hasan!" Lalu ia berteriak kepada kami semua, "Masuk ke kamar
semua!" Kami pun segera beranjak tanpa ragu.
Pada malam itu, kami dipaksa untuk menjalani peraturan yang
lebih ketat. Tidak hanya oleh pasukan penjajah di luar rumah, tetapi juga oleh
ibuku di dalam kamar. Ia melarang kami keluar dari kamar sepanjang malam,
kecuali dalam keadaan darurat. Ia memaksa kami tidur lebih awal, dengan suasana
yang tegang dan penuh larangan.

Posting Komentar