SEBUAH NOVEL PERJUANGAN DARI YAHYA SINWAR - 4/4

 

Episode sebelumnya: Beberapa hari kemudian, setelah pulang dari sekolah, aku mendengar kakakku, Mahmoud, berbicara dengan ibuku bahwa sepupuku Hassan tidak pergi ke sekolah hari itu, dia kabur dari sana. Aku melihat kebingungan di wajah ibuku. Apa yang bisa ia lakukan untuk mengatasi masalah ini?.

Baca episode sebelumnya ...

Aku melihatnya berbicara dengan kakekku, dan mereka berdua memanggil Hasan, lalu terlibat dalam percakapan yang penuh amarah. Kakek berusaha membela diri, namun usahanya sia-sia. Mereka berdua mengancam dengan tegas, mengatakan bahwa mereka akan membuat Mahmud dan Hasan menangkapnya, mengikatnya dengan tali di tiang gazebo rumah, dan menyiksanya jika ia kembali kabur dari sekolah.


Beberapa hari kemudian, ibuku menemukannya—sebatang rokok dan seperempat lira tersembunyi di saku celananya. Dengan marah, ia mengambilnya dan membawanya kepada kakek yang sedang duduk di halaman rumah, seraya berkata, "Lihat apa yang kutemukan di saku cucumu." Kakek memandangnya dengan terkejut, matanya menyipit, dan ia bertanya dengan nada bingung, "Dari mana anak ini mendapatkan uang?" Pada saat itu, ibuku berteriak memanggil Mahmud dan Hasan untuk segera membawa Hasan, sepupuku. Mereka segera pergi, hilang sejenak, dan kembali dengan Hasan di samping mereka.


Kakekku, yang telah dikuasai oleh kebingungan dan keletihan, tak mampu berbuat apa-apa. Di saat itu, ibuku mengambil alih tanggung jawab untuk menginterogasi sepupuku, Hasan. "Dari mana kamu mendapat uang ini?" tanyanya dengan tegas. Hasan kebingungan, "Uang apa?" jawabnya ragu. Ibuku lalu menunjukkan seperempat lira dan rokok yang ditemukan di saku celananya. Hasan terdiam, seolah tersungkur oleh kenyataan, seakan berkata dalam hati, "Ini bencana." Ia mencoba mengelak, namun ibuku tak memberi kesempatan. Dengan suara lantang, ia memerintahkan Mahmud dan Hasan untuk menahan sepupuku, sementara ia berteriak memanggil Fathimah, "Bawa tali, Fathimah, cepat!" Semua bergerak dengan cepat melaksanakan tugas mereka, sementara aku, saudara laki-lakiku Muhammad, dan sepupuku Ibrahim hanya bisa mengintip dari balik punggung kakek, dengan hati yang dipenuhi rasa takut dan kebingungan atas apa yang sedang terjadi.


Mahmud dan Hasan segera memegangi Hasan dan menyeretnya menuju tiang, sementara Fathimah membawa tali, dan ibuku mulai berusaha mengikatnya ke tiang sambil terus menginterogasinya. Ketika Hasan menyadari bahwa situasi ini serius, ia pun berteriak, "Aku menjatuhkan setengah lira dari kakek dan aku mengambilnya!" Kakekku terkejut mendengar pengakuan itu. "Bagaimana bisa setengah lira jatuh dariku? Berapa banyak setengah lira yang aku punya?" tanyanya dengan bingung. Ibuku melanjutkan interogasinya, "Di mana kamu menemukannya?" Hasan mulai gagap, kata-katanya semakin tidak meyakinkan, memperlihatkan bahwa ia sedang berbohong. Dengan penuh amarah, ibuku berteriak kepada Mahmud dan Hasan untuk terus menahannya pada tiang, sambil melambai-lambaikan tali. Lalu, Hasan pun mengaku, "Aku mengambilnya dari kantong kakek ketika ia menggantungkan tasnya di gantungan baju, sementara dia sedang tidur".


Ibuku berteriak, "Kamu menyebut ini mengambil? Katakan saja, kamu mencuri dari kantong kakek!" Ia kemudian menoleh pada kakek dan bertanya dengan nada tegas, "Apa pendapatmu, Abu Ibrahim? Apa yang harus kita lakukan dengan anak ini?" Kakekku hanya bisa memukul telapak tangan satu sama lain, kebingungannya semakin jelas. Ia mengeluarkan kantong uangnya dan memeriksa isinya, hanya menemukan setengah lira. Hasan telah mengambil setengah lainnya, yang berarti ia telah mencuri setengah dari jatah uang keluarga. Dengan suara yang lemah, kakek berkata, "Ikat dia pada tiang... ikat dia!"


Ibuku menatap kakek, matanya seolah bertanya apakah ia benar-benar serius. Kakek hanya mengangguk pelan, matanya bergerak ke arah kami, anak-anak. Seolah ia ingin mengatakan padanya, "Anak-anak harus melihat bahwa ia dihukum atas perbuatannya, karena jika tidak, bagaimana hal ini akan mempengaruhi mereka?".


Ibuku mengikat Hasan ke tiang sambil meratap, menangisi nasibnya dan nasib Hasan, "Betapa malangnya dirimu, wahai anak sang syahid! Ayahmu seorang syahid, Hasan... kau tahu apa artinya syahid? Ayahmu seorang syahid, dan kau malah mencuri setengah dari uang kantong kakekmu! Setengah dari jatah keluarga, Hasan! Malu padamu, Hasan!" Lalu ia berteriak kepada kami semua, "Masuk ke kamar semua!" Kami pun segera beranjak tanpa ragu.


Pada malam itu, kami dipaksa untuk menjalani peraturan yang lebih ketat. Tidak hanya oleh pasukan penjajah di luar rumah, tetapi juga oleh ibuku di dalam kamar. Ia melarang kami keluar dari kamar sepanjang malam, kecuali dalam keadaan darurat. Ia memaksa kami tidur lebih awal, dengan suasana yang tegang dan penuh larangan.


Bersambung BAB 5

Penerjemah : Nidda, Editor : Shofi

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama