SEBUAH NOVEL PERJUANGAN DARI YAHYA SINWAR - 4/3

 

Episode sebelumnya: Abu Hatim berdiri tegak, tongkatnya di tangan, dan laki-laki malang itu berusaha menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya, menekuk tubuhnya seakan ingin melebur ke tanah.

Baca episode sebelumnya ...

Hening mutlak menyelimuti tempat itu, hingga terpecah oleh suara Abu Hatim yang menggelegar, mengguncang hati :

"Wahai manusia! Kalian semua tahu siapa Abu Yusuf... komandan Pasukan Pembebasan Rakyat di kamp ini. Kalian tahu, dan telah mendengar dengan telinga kalian sendiri, tentang kepahlawanannya… tentang operasi-operasi yang membuat kepala kita terangkat tinggi—yang membuat para penjajah menggigit jari mereka. Dan kalian juga semua tahu... siapa si hina dina ini... yang baru saja kami ketahui sebagai pengkhianat, mata-mata bagi Yahudi! Dialah yang mengawasi setiap langkah Abu Yusuf dan memberi tahu tentara Yahudi tentang geraknya.”

Mulailah para penghuni kamp berbisik—gumaman samar tak terbaca, tak terdengar jelas, dan tak dimengerti maksudnya. Saat itu, Abu Hatim mengangkat tongkat rotannya tinggi-tinggi, lalu membentak si lelaki dengan suara mengguntur:

"Woi, dasar keji! Bicara kau di hadapan orang-orang! Katakan apa yang sebenarnya terjadi!"

Lelaki itu hanya menggerutu pelan, suara lirihnya tenggelam dalam ketakutan. Maka melayanglah tongkat Abu Hatim, menghujani tubuhnya dengan beberapa pukulan bertubi-tubi. Lelaki itu jatuh terduduk, berjongkok, melingkarkan tangannya di atas kepalanya seolah hendak bersembunyi dari aib dunia.

Tapi Abu Hatim membentaknya lagi, kali ini memerintah:

"Berdiri! Katakan yang sebenarnya, biar orang-orang mendengar!"

Dengan tubuh gemetar, lelaki itu berdiri tergopoh dan mulai mengaku—bahwa dialah yang telah melaporkan informasi tentang Abu Yusuf dan dua rekannya… bahwa ia menjual mereka demi sekeping uang yang tak seberapa… dan bahwa ia tak tahu mereka akan dibunuh.

Belum sempat ia merampungkan pengakuannya, tongkat Abu Hatim kembali menghantam tubuhnya—kali ini disambut suara orang-orang yang membuncah:

"Semoga Tuhan menghinakanmu, wahai bajingan!"
"Celaka engkau, wahai pengkhianat, wahai mata-mata!"

Abu Hatim mengangkat tongkatnya ke udara, memberi isyarat agar orang-orang diam. Dan segera, senyap menyelimuti tempat itu—hening yang bisa menebarkan gemetar ke tulang.

Lalu bersuara Abu Hatim, suaranya dalam dan mengguncang dada:

"Wahai saudara... Yahudi telah menjajah tanah kita. Mereka mengusir kita dari negeri kita, membunuh para lelaki kita, mencabik kehormatan perempuan-perempuan kita... Dan kini, di antara kita ada yang rela menjual martabatnya, menjual saudaranya, bekerja sama dengan musuh melawan para pejuang—mereka yang telah menggenggam nyawa mereka di telapak tangan dan menyerahkannya demi kita semua!

Apa balasan bagi seorang pengkhianat, wahai saudara? Bagi yang bekerja dengan Yahudi?"

Tiba-tiba langit menggema oleh teriakan massa yang membuncah serempak:

"Bunuh... Bunuh... Bunuh..."

Lalu Abu Hatim menghunus senapannya dari bahunya—gerakannya lambat tapi pasti, seperti takdir yang tak bisa dielakkan. Ia arahkan moncong senjata itu ke kepala si pengkhianat.

Ibuku, entah dari mana datangnya, tiba-tiba menutup kedua mataku dengan tangannya. Tapi aku berusaha menyingkirkan tangannya, ingin tahu... ingin melihat... ingin mengerti...

Namun sebelum sempat kulihat sesuatu—ledakan tembakan meletus.

Suara peluru menembus keheningan. Diikuti sorakan massa yang membuncah seperti gelombang amarah:

"Kematian bagi para pengkhianat! Kematian bagi para agen musuh!"

Keesokan harinya, para pejuang perlawanan bersembunyi, menanti salah satu patroli pasukan penjajah. Mereka telah bersumpah demi darah para syuhada, bahwa balasan atas darah Abu Yusuf harus ditunaikan. Begitu jip militer melintas, granat-granat tangan melayang menghantamnya, disusul oleh semburan peluru yang deras seperti hujan dendam. Beberapa serdadu gugur seketika, dan yang lainnya terluka parah. Tak sempat mereka mengangkat senjata, apalagi menembaki warga yang melintas.

Tak lama, bala bantuan besar dari tentara penjajah tiba. Mereka mengepung kawasan itu dengan kejam. Rumah-rumah warga yang berdekatan digedor dan diterobos satu demi satu. Mereka mengusir penghuninya dengan pukulan, tendangan, dan teriakan. Peluru ditembakkan ke udara, menebar teror. Para lelaki diperintahkan berbaris menghadap tembok, senapan diarahkan ke belakang kepala mereka, dan hantaman tak kunjung berhenti.

Tiba-tiba, seorang perwira intelijen yang bertanggung jawab atas daerah itu muncul, mengawasi satu per satu para pria yang telah dipaksa berbaris. Dia duduk di dalam mobilnya, pintu terbuka lebar, matanya tajam mengamati mereka. Nama-nama dipanggil satu per satu, memerintahkan mereka berdiri di hadapannya. Di bawah todongan senjata yang siap mengarah, ia mulai menumpahkan tanya—puluhan, bahkan ratusan pertanyaan—semuanya bermuara pada satu harapan: menemukan secuil informasi yang dapat mengungkap identitas pejuang perlawanan yang mengacak-acak ketenangan penjajah.

Setelah beberapa hari, larangan keluar akhirnya dicabut, dan kami pun pergi ke sekolah seperti biasa. Saat istirahat setelah tiga pelajaran pertama, saya pergi ke toilet. Di sana, saya melihat anak-anak lain sedang memanjat tembok yang tidak terlalu tinggi, memandang dari atasnya, dan berbicara dengan anak-anak lain. Saya pun mendekat ke tembok itu, memanjat seperti mereka, dan memandang. Ternyata kami bisa melihat ke sekolah menengah tempat kakak saya, Hassan, belajar. Anak-anak yang bersekolah di sana terlihat lebih tua, jauh lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan saya.

Pada hari itu, dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah, aku bersama kakakku, Mahmoud, dan sepupuku, Ibrahim. Di antara ratusan siswa yang memenuhi jalan, aku melihat sepupuku, Hassan, yang berada beberapa puluh meter dariku, dengan banyak siswa dan siswi di antara kami. Sepertinya aku melihat Hassan mengangkat tangannya ke mulut dan memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Apakah itu rokok? Lalu aku melihatnya menurunkan tangannya dan menghembuskan asap dari mulutnya. Aku meremas tangan Muhammad dan Ibrahim yang memegang tanganku seperti biasa, mereka memandangku dengan heran. Aku memberi isyarat dengan mataku ke arah Hassan. Mereka tidak mengerti dan bertanya dengan kebingungan, "Ada apa? Kenapa?" Aku menjawab, "Hassan!!" Mereka berkata, "Tidak, ada apa dengannya?" Hassan ternyata sudah sadar bahwa kami berada di belakangnya, lalu ia membuang ujung rokok yang sedang ia hisap. Muhammad dan Ibrahim tidak melihat apa-apa. Kami sudah sampai, dan aku memilih untuk diam, khawatir jika aku berbicara, salah satu tendangan dari Hassan akan mengenai tubuhku.

Saat kami pulang ke rumah, aku mendapati ibuku sendirian setelah selesai dari pekerjaannya. Aku mendekatinya, berbisik di telinganya, "Ibu, aku lihat Hassan, sepupuku, sedang merokok." Ibuku menoleh padaku dengan tatapan tajam, lalu berkata, "Pasti kamu salah lihat, atau kamu hanya berkhayal. Jangan ceritakan ini pada siapa pun, paham?". Aku mengangguk, setuju, dan pergi meninggalkan ruangan. Namun, pada hari itu, aku tidak melewatkan bahwa ibuku menyendiri dengan Hassan, berbicara dengannya dan bertanya padanya, sementara dia menundukkan kepala, dan aku tidak bisa mendengar percakapan mereka. Beberapa hari kemudian, setelah pulang dari sekolah, aku mendengar kakakku, Mahmoud, berbicara dengan ibuku bahwa sepupuku Hassan tidak pergi ke sekolah hari itu, dia kabur dari sana. Aku melihat kebingungan di wajah ibuku. Apa yang bisa ia lakukan untuk mengatasi masalah ini?.

Bersambung ...

Penerjemah : Nidda, Editor : Shofi

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama