Episode sebelumnya: Abu Hatim berdiri tegak, tongkatnya di tangan, dan laki-laki malang itu berusaha menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya, menekuk tubuhnya seakan ingin melebur ke tanah.
Hening
mutlak menyelimuti tempat itu, hingga terpecah oleh suara Abu Hatim yang
menggelegar, mengguncang hati :
"Wahai
manusia! Kalian semua tahu siapa Abu Yusuf... komandan Pasukan Pembebasan
Rakyat di kamp ini. Kalian tahu, dan telah mendengar dengan telinga kalian
sendiri, tentang kepahlawanannya… tentang operasi-operasi yang membuat kepala
kita terangkat tinggi—yang membuat para penjajah menggigit jari mereka. Dan
kalian juga semua tahu... siapa si hina dina ini... yang baru saja kami ketahui
sebagai pengkhianat, mata-mata bagi Yahudi! Dialah yang mengawasi setiap
langkah Abu Yusuf dan memberi tahu tentara Yahudi tentang geraknya.”
Mulailah
para penghuni kamp berbisik—gumaman samar tak terbaca, tak terdengar jelas, dan
tak dimengerti maksudnya. Saat itu, Abu Hatim mengangkat tongkat rotannya
tinggi-tinggi, lalu membentak si lelaki dengan suara mengguntur:
"Woi,
dasar keji! Bicara kau di hadapan orang-orang! Katakan apa yang sebenarnya
terjadi!"
Lelaki
itu hanya menggerutu pelan, suara lirihnya tenggelam dalam ketakutan. Maka
melayanglah tongkat Abu Hatim, menghujani tubuhnya dengan beberapa pukulan
bertubi-tubi. Lelaki itu jatuh terduduk, berjongkok, melingkarkan tangannya di
atas kepalanya seolah hendak bersembunyi dari aib dunia.
Tapi
Abu Hatim membentaknya lagi, kali ini memerintah:
"Berdiri!
Katakan yang sebenarnya, biar orang-orang mendengar!"
Dengan
tubuh gemetar, lelaki itu berdiri tergopoh dan mulai mengaku—bahwa dialah yang
telah melaporkan informasi tentang Abu Yusuf dan dua rekannya… bahwa
ia menjual mereka demi sekeping uang yang tak seberapa… dan bahwa ia tak tahu
mereka akan dibunuh.
Belum
sempat ia merampungkan pengakuannya, tongkat Abu Hatim kembali menghantam
tubuhnya—kali ini disambut suara orang-orang yang membuncah:
"Semoga
Tuhan menghinakanmu, wahai bajingan!"
"Celaka engkau, wahai pengkhianat, wahai mata-mata!"
Abu
Hatim mengangkat tongkatnya ke udara, memberi isyarat agar orang-orang diam.
Dan segera, senyap menyelimuti tempat itu—hening yang bisa menebarkan gemetar
ke tulang.
Lalu
bersuara Abu Hatim, suaranya dalam dan mengguncang dada:
"Wahai saudara... Yahudi telah menjajah tanah kita. Mereka mengusir kita dari negeri
kita, membunuh para lelaki kita, mencabik kehormatan perempuan-perempuan
kita... Dan kini, di antara kita ada yang rela menjual martabatnya, menjual
saudaranya, bekerja sama dengan musuh melawan para pejuang—mereka yang
telah menggenggam nyawa mereka di telapak tangan dan menyerahkannya demi kita
semua!
Apa
balasan bagi seorang pengkhianat, wahai saudara? Bagi yang bekerja dengan
Yahudi?"
Tiba-tiba
langit menggema oleh teriakan massa yang membuncah serempak:
"Bunuh...
Bunuh... Bunuh..."
Lalu
Abu Hatim menghunus senapannya dari bahunya—gerakannya lambat tapi pasti,
seperti takdir yang tak bisa dielakkan. Ia arahkan moncong senjata itu ke
kepala si pengkhianat.
Ibuku,
entah dari mana datangnya, tiba-tiba menutup kedua mataku dengan tangannya.
Tapi aku berusaha menyingkirkan tangannya, ingin tahu... ingin melihat... ingin
mengerti...
Namun
sebelum sempat kulihat sesuatu—ledakan tembakan meletus.
Suara
peluru menembus keheningan. Diikuti sorakan massa yang membuncah seperti
gelombang amarah:
"Kematian
bagi para pengkhianat! Kematian bagi para agen musuh!"
Keesokan
harinya, para pejuang perlawanan bersembunyi, menanti salah satu patroli
pasukan penjajah. Mereka telah bersumpah demi darah para syuhada, bahwa balasan
atas darah Abu Yusuf harus ditunaikan. Begitu jip militer melintas,
granat-granat tangan melayang menghantamnya, disusul oleh semburan peluru yang
deras seperti hujan dendam. Beberapa serdadu gugur seketika, dan yang lainnya
terluka parah. Tak sempat mereka mengangkat senjata, apalagi menembaki warga
yang melintas.
Tak
lama, bala bantuan besar dari tentara penjajah tiba. Mereka mengepung kawasan
itu dengan kejam. Rumah-rumah warga yang berdekatan digedor dan diterobos satu
demi satu. Mereka mengusir penghuninya dengan pukulan, tendangan, dan teriakan.
Peluru ditembakkan ke udara, menebar teror. Para lelaki diperintahkan berbaris
menghadap tembok, senapan diarahkan ke belakang kepala mereka, dan hantaman tak
kunjung berhenti.
Tiba-tiba, seorang perwira intelijen
yang bertanggung jawab atas daerah itu muncul, mengawasi satu per satu para
pria yang telah dipaksa berbaris. Dia duduk di dalam mobilnya, pintu terbuka
lebar, matanya tajam mengamati mereka. Nama-nama dipanggil satu per satu,
memerintahkan mereka berdiri di hadapannya. Di bawah todongan senjata yang siap
mengarah, ia mulai menumpahkan tanya—puluhan, bahkan ratusan
pertanyaan—semuanya bermuara pada satu harapan: menemukan secuil informasi yang
dapat mengungkap identitas pejuang perlawanan yang mengacak-acak ketenangan
penjajah.
Setelah
beberapa hari, larangan keluar akhirnya dicabut, dan kami pun pergi ke sekolah
seperti biasa. Saat istirahat setelah tiga pelajaran pertama, saya pergi ke
toilet. Di sana, saya melihat anak-anak lain sedang memanjat tembok yang tidak
terlalu tinggi, memandang dari atasnya, dan berbicara dengan anak-anak lain.
Saya pun mendekat ke tembok itu, memanjat seperti mereka, dan memandang.
Ternyata kami bisa melihat ke sekolah menengah tempat kakak saya, Hassan,
belajar. Anak-anak yang bersekolah di sana terlihat lebih tua, jauh lebih tinggi
dan lebih besar dibandingkan saya.
Pada
hari itu, dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah, aku bersama
kakakku, Mahmoud, dan sepupuku, Ibrahim. Di antara ratusan siswa yang memenuhi
jalan, aku melihat sepupuku, Hassan, yang berada beberapa puluh meter dariku,
dengan banyak siswa dan siswi di antara kami. Sepertinya aku melihat Hassan
mengangkat tangannya ke mulut dan memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Apakah
itu rokok? Lalu aku melihatnya menurunkan tangannya dan menghembuskan asap dari
mulutnya. Aku meremas tangan Muhammad dan Ibrahim yang memegang tanganku
seperti biasa, mereka memandangku dengan heran. Aku memberi isyarat dengan
mataku ke arah Hassan. Mereka tidak mengerti dan bertanya dengan kebingungan,
"Ada apa? Kenapa?" Aku menjawab, "Hassan!!" Mereka berkata,
"Tidak, ada apa dengannya?" Hassan ternyata sudah sadar bahwa kami
berada di belakangnya, lalu ia membuang ujung rokok yang sedang ia hisap.
Muhammad dan Ibrahim tidak melihat apa-apa. Kami sudah sampai, dan aku memilih
untuk diam, khawatir jika aku berbicara, salah satu tendangan dari Hassan akan
mengenai tubuhku.
Saat
kami pulang ke rumah, aku mendapati ibuku sendirian setelah selesai dari
pekerjaannya. Aku mendekatinya, berbisik di telinganya, "Ibu, aku lihat
Hassan, sepupuku, sedang merokok." Ibuku menoleh padaku dengan tatapan
tajam, lalu berkata, "Pasti kamu salah lihat, atau kamu hanya berkhayal.
Jangan ceritakan ini pada siapa pun, paham?". Aku mengangguk, setuju, dan
pergi meninggalkan ruangan. Namun, pada hari itu, aku tidak melewatkan bahwa
ibuku menyendiri dengan Hassan, berbicara dengannya dan bertanya padanya,
sementara dia menundukkan kepala, dan aku tidak bisa mendengar percakapan
mereka. Beberapa hari kemudian, setelah pulang dari sekolah, aku mendengar
kakakku, Mahmoud, berbicara dengan ibuku bahwa sepupuku Hassan tidak pergi ke
sekolah hari itu, dia kabur dari sana. Aku melihat kebingungan di wajah ibuku.
Apa yang bisa ia lakukan untuk mengatasi masalah ini?.

Posting Komentar