SEBUAH NOVEL PERJUANGAN DARI YAHYA SINWAR - 6/2

 

Baca sebelumnya ...


Dalam lingkaran-lingkaran pertemuan itu, dalam rajutan percakapan dan simpul-simpul persaudaraan yang terus terjalin, suami bibikku berkenalan dengan "Abu Ali" — seorang lelaki yang tampak menyala keyakinannya akan urgensi bertindak demi perjuangan. Baginya, perlawanan bukan sekadar opsi; ia adalah keniscayaan. Meskipun mungkin belum sanggup membebaskan tanah air seluruhnya atau mengusir pendudukan dari akar-akarnya, namun ia — tanpa ragu sedikit pun — adalah bentuk paling luhur dari menjalankan amanah kebangsaan, paling tidak dalam kadar yang tidak bisa ditawar oleh nurani.


Sering kali, suami bibiku dan Abu Ali menyusuri jalan-jalan di Hebron, saat suami bibikku bertandang ke sana, atau di Surif ketika Abu Ali yang datang berkunjung. Mereka berjalan berdampingan, larut dalam percakapan panjang tentang penjajahan yang mencengkeram tanah, tentang kewajiban suci untuk melawannya, dan tentang bahaya tenggelam dalam kepasrahan—menjadi manusia yang sibuk mengejar harta, menumpuk kekayaan, dan mendirikan rumah-rumah megah, sembari melupakan luka bangsa yang belum sembuh.


Karena benih-benih pikiran mereka tumbuh di tanah yang sama, persahabatan mereka pun menguat, mengakar, tak mudah goyah. Hingga pada suatu hari, Abu Ali membuka hatinya, menghunus tekadnya dan berkata, “Aku tidak bisa terus berpangku tangan seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu, sekurang-kurangnya memenuhi batas paling dasar dari kewajiban yang kutanggung sebagai anak bangsa”. Suami bibiku menatapnya dan bertanya, “Apa yang akan kau lakukan? Mencari sepucuk senjata, menyerang patroli pendudukan lalu melarikan diri dan hidup dalam pelarian seperti Abu Sharar dan para pejuang lainnya?”. Abu Ali menggeleng, matanya bersinar tenang namun membara, “Bukan itu yang kuimpikan. Aku ingin perlawanan ini tidak lagi serampangan. Aku ingin ia menjadi sebuah arus—sebuah gerakan yang terorganisir, sebuah fenomena yang tak bisa diabaikan”.


“Dan bagaimana caramu memulainya?”, tanya suami bibiku. “Aku akan pergi ke Yordania dan mengajukan gagasan ini kepada gerakan Fatah di sana. Kau tahu, setelah Pertempuran Karameh, Fatah telah mengukuhkan dirinya. Mereka pasti menyambut ideku dan menyediakan semua dukungan yang kubutuhkan”. Suami bibiku menyambut gagasan itu dengan penuh takzim—mengangguk mantap seraya memuji betapa cemerlangnya ide itu. Ia menatap Abu Ali dengan kesungguhan yang dalam, lalu berkata, “Pastikan kau selalu waspada. Jangan beri celah sedikit pun bagi musuh untuk mencium jejakmu”. Dan dengan suara yang berat oleh tekad, ia menambahkan, “Anggap aku sahabat sejatimu dalam setiap langkah yang akan kau ambil. Apa pun yang kau mulai, aku bersamamu sepenuhnya”. Keduanya sepakat: Abu Ali akan melakukan perjalanan itu sendiri. Dan agar langkahnya tak menimbulkan kecurigaan, mereka merancang strategi—sebuah samaran dagang yang rapi, agar langkahnya tak meninggalkan bayangan yang bisa diendus mata-mata penjajah.


Yordania, pada masa itu—pasca kemenangan gemilang di Karameh—telah menjadi tanah yang sepenuhnya tunduk pada kehendak perlawanan. Udara di kamp-kamp pengungsi dipenuhi oleh sorak-sorai kemenangan; wajah-wajah yang dulu muram kini bersinar oleh harapan baru. Di setiap sudut terdengar pekikan hidup bagi para fedayin—pejuang-pejuang kemerdekaan—dan setiap lidah tak lelah mengumandangkan doa serta nyanyian bagi Harakah at-Tahrir al-Wathani al-Filastini, nama agung yang berada di balik kemenangan tersebut. Bagi sosok seperti Abu Ali, tidaklah sulit untuk segera menemukan jejak para pemimpin perjuangan bersenjata di sana. Ia pun menjalin kesepakatan dengan mereka: gerakan akan segera meluas, dan Fatah akan mulai membentuk sel-sel militer di seluruh penjuru Tepi Barat. Abu Ali akan menjadi pelaksana misi ini—diperkuat dengan sokongan dana dan senjata—untuk mendirikan jaringan perlawanan, melatih para anggota, dan mempersenjatai mereka sebagai permulaan dari babak baru: perlawanan bersenjata yang menyala dari tanah yang dijajah.


Setelah menyambangi beberapa sanak saudara—sebuah langkah yang bijak untuk menaburkan bayang-bayang keperluannya yang sesungguhnya—Abu Ali berkeliling di Yordania, menjalankan beberapa urusan dagang yang dirancang cermat sebagai tabir bagi misinya yang jauh lebih besar. Di balik transaksi dan senyum-senyum formal, tersimpan detak jantung perlawanan yang terus memacu langkahnya. Tak lama kemudian, ia kembali ke Tepi Barat. Tapi kali ini, ia bukan lagi lelaki biasa. Ia kembali sebagai utusan tekad, sebagai penggugah api. Ia pun mulai menjalin komunikasi secara diam-diam dengan banyak kenalan lamanya, terutama di kalangan pemuda yang tersebar di berbagai kota—pemuda-pemuda yang dadanya telah lama sesak oleh penindasan, dan kini hanya menanti percikan kecil untuk menyala menjadi bara.


Ia mulai merajut jaringan. Satu demi satu, para pemuda itu ia masukkan ke dalam barisan gerakan Fatah. Kepada setiap orang yang telah ia percayai, ia titipkan misi: rekrut dua atau tiga sahabatmu—mereka yang hatinya teguh, yang siap mengangkat senjata melawan penjajahan, yang tidak gentar menempuh jalan yang panjang dan berat ini. Dari utara Tepi Barat yang jauh hingga ke kota Hebron di selatan—bahkan menjangkau desa-desa dan perkampungan sunyi—Abu Ali terus bergerak. Setiap kali ia menjumpai seseorang yang dikenalnya dan dipercayainya, ia membuka gagasan itu dengan suara rendah tapi menggetarkan. Dan setiap kali ia menemukan hati yang sepakat dan semangat yang menyala, ia meminta satu hal: bentuklah selmu. Rapatkan barisanmu. Lalu mereka pun berjanji akan saling menghubungi kembali dalam waktu dekat—sebuah janji diam-diam yang membawa gemuruh sejarah baru yang tengah ditulis di balik bayang-bayang pendudukan.


Tugas mengumpulkan senjata dipercayakan kepada suami bibikku, Abdul Fattah—pergerakan dan usahanya yang luas menjadi tirai sempurna untuk menutupi misi di balik layar. Maka dalam waktu yang singkat, sel-sel perlawanan mulai tumbuh, mengeras seperti baja yang menunggu ditempa. Kelompok demi kelompok terbentuk, dan operasi-operasi fedai pun dimulai—meski sederhana, tapi sarat makna. Ada yang melempar granat ke kendaraan patroli militer, ada yang melepaskan tembakan ke arah mereka, dan ada pula yang mencoba menembak dari kejauhan—sebuah salam pembuka dari rakyat yang tak lagi sudi tunduk. Namun seperti setiap lembar perjuangan yang ditulis dengan darah dan keringat, perlawanan pun tak lepas dari cela. Salah satu sel mengalami kesalahan teknis dalam sebuah operasi. Para anggotanya tertangkap. Mereka dibawa ke ruang-ruang interogasi yang gelap dan dingin—ruang yang dibangun bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk mematahkan jiwa. Beberapa dari mereka tak kuat menghadapi penyiksaan yang mengerikan; pengakuan pun meluncur dari mulut-mulut yang sebelumnya terkunci rapat. Penangkapan meluas—satu demi satu, nama-nama dijaring hingga akhirnya menyentuh jantung gerakan: Abu Ali.


Ia ditangkap dan dijebloskan ke ruang interogasi yang paling kejam, di kedalaman penjara Hebron. Di sana, mereka mencoba meremukkan semangatnya. Tapi Abu Ali bukan lelaki yang mudah goyah. Ia berdiri tegak dalam badai itu, menolak mengakui bahkan hal-hal sepele yang telah disebutkan oleh pemuda-pemuda lain yang terperdaya oleh tipuan dan siksaan. Ia diam, bukan karena takut, tapi karena setia—setia pada jalan yang telah ia pilih, dan pada tanah yang tak pernah ia khianati.


Tak lama berselang, intelijen Israel menciduk suami bibiku. Setelah mereka menelusuri jalinan relasi dan persahabatan Abu Ali, bayangan kecurigaan mengarah kepadanya. Maka rumahnya pun menjadi sasaran penggerebekan. Para serdadu menyerbu masuk, dan tak ada yang luput dari amukan mereka—perabot dihancurkan, benda-benda dilempar dan dipatahkan, seolah dinding-dinding rumah itu turut mereka hukum.


Tapi kehancuran fisik belum cukup bagi mereka. Mereka menyeret bibiku—perempuan yang hanya tahu mencintai dan menjaga—dan memukulinya. Bahkan anaknya yang masih kecil, Abdul Rahim, turut merasakan kebrutalan yang seharusnya hanya ditujukan kepada para pejuang. Tangan-tangan besi tak mengenal belas kasih. Suami bibikku diseret ke Penjara Hebron. Di sanalah ia dicampakkan ke dalam neraka interogasi. Penyiksaan yang mengiris daging dan mengguncang batin pun dimulai. Mereka menghujaninya dengan pertanyaan soal Abu Ali—siapa dia bagimu, apa hubungan kalian, bagaimana rencananya. Mereka mencoba meruntuhkan semangatnya dengan tipu daya keji: "Abu Ali sudah mengaku. Ia telah membongkar segalanya. Mengapa kau terus menyangkal dan menyiksa dirimu sendiri?”. Namun Abu Abdul Rahim, suami bibiku, memilih diam yang bermakna. Ia menolak menyerah, meski tubuhnya sudah tak sanggup berdiri lurus. Karena itu, mereka menjatuhkan vonis penjara administratif enam bulan—tanpa dakwaan, tanpa pengadilan, hanya karena diam yang mereka anggap mengancam.


Sementara itu, Abu Ali—yang semangatnya telah menyalakan api di banyak dada—dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Hukumannya lahir dari serpihan pengakuan yang tercerai dari mulut-mulut muda yang belum cukup kuat untuk menahan badai penyiksaan. Mereka tumbang, dan ia yang memimpin, harus menanggung beban mereka semua.


Dari sinilah, perjalanan bibiku dimulai menuju dunia yang asing dan dingin—dunia penjara, dunia jeruji besi yang merenggut hari-hari para lelaki dan menggantinya dengan derita bagi perempuan yang menanti. Setiap bulan, sekali dalam sebulan, bibiku menyiapkan diri untuk ziarah—ziarah bukan ke kubur, tapi ke tembok dingin yang memenjarakan orang yang dicintainya. Pada hari yang telah ditentukan, ia bangun pagi-pagi sekali. Dalam diam, ia menyiapkan segala yang perlu: pakaian, bekal, dan yang terpenting—anaknya. Lalu ia mendekap si kecil di pelukannya, seolah ingin melindunginya dari dunia yang telah kehilangan rasa welas. Ia melangkah pelan tapi pasti. Dengan mata yang letih namun hati yang teguh, ia berjalan menuju pusat desa. Setiap langkah adalah doa, setiap hembusan napas adalah harap agar lelaki yang menunggunya di balik jeruji tetap tegar, tetap utuh, tetap hidup dalam cintanya.


Bersambung ...


Penulis : Nidda, Editor : Shofi


 

 

 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama