SEBUAH NOVEL PERJUANGAN DARI YAHYA SINWAR - 2/3

BAB 2/2 _Baca sebelumnya...

Tak terasa waktu cepat berlalu. Tahun yang berganti tahun telah memakan usia muda Ibu.

Suatu ketika, Paman Saleh kembali mengunjungi kami. Dia mengeluarkan tangannya dari saku untuk memberikan sejumlah uang yang biasa dia berikan pada Ibu. Namun dengan tegas Ibu menolak. Semua usaha Paman nampaknya tak berhasil meyakinkan Ibu, sehingga Paman mencari cara lain. Paman lalu mengatakan pada Ibu bahwa pabriknya membutuhkan pekerja baru untuk membersihkan dan merapikan barang-barang.

Adapun Mahmoud dan Hassan kini telah tumbuh menjadi pemuda, oleh karenanya Paman berniat mempekerjakan mereka di pabrik setelah pulang sekolah. Mereka dibayar dengan bayaran lebih tinggi daripada pekerja lain di sana. Paman lalu menyampaikan bahwa uang yang ia berikan pada Ibu adalah uang muka dari upah bulanan mereka. Dengan begitu Ibu mau menerima uang tersebut.

Mahmoud dan Hassan mulai dilatih untuk bertanggung jawab terhadap keluarga. Mereka pulang dari sekolah pada siang hari, menaruh tas sekolah, makan siang bersama kami,  lalu berangkat ke pabrik. Ibu akan berceramah panjang lebar mengajari mereka berdua bagaimana berperilaku di jalan, bekerja keras dan loyal, hingga cara membersihkan ruangan dan masih banyak lagi. Kemudian Ibu menepuk pundak mereka dan mengucapkan selamat jalan. Ibu akan menyambut mereka ketika sampai rumah, sebelum matahari terbenam dengan rasa puas. Begitulah keadaannya. Pamanku membayar Ibu seperti yang biasa dia lakukan sebelumnya, seakan-akan itu adalah harga dari kerja keras Mahmoud dan Hassan, padahal sebenarnya mereka tidak melakukan banyak hal di pabrik.

Aku sering terbangun di waktu subuh karena mendengar doa kakek ketika selesai berwudhu. Aku biasa menikmati lantunan doa-doa manis itu. Lalu menikmati suaranya saat melantunkan surah  Al-Fatihah dan ayat-ayat Al-Qur'an dalam dua rakaat Subuhnya. Suaranya terdengar jelas. Lalu dilanjutkan dengan doa Qunut. Aku hampir hafal dengan bacaan kakek karena terus diulang persis setiap hari, "Ya Allah, bimbinglah kami di antara orang-orang yang Engkau beri hidayah ..."

Saat itu masih pemberlakuan jam malam, sehingga kakek tidak bisa melaksanakan salat Subuh di masjid. Siapa pun yang keluar rumah akan menghadapi risiko kematian karena patroli penjajah yang berseliweran di jalan-jalan kamp atau mengintai di mana-mana. Jam malam dimulai setiap hari pada pukul tujuh malam dan berlangsung hingga pukul lima pagi. Sedangkan untuk salat-salat lainnya, kakek biasa melaksanakannya di masjid kecuali jika ada hal mendesak seperti pergi mengambil perbekalan atau saat terjadi perpanjangan jam malam.

Masjid di kamp kami berbentuk sebuah ruangan besar yang beratapkan seng. Terdapat  beberapa jendela dan menara kecil tempat muazin menaiki tangga batu untuk mengumandangkan azan dengan suara lantangnya. Di jalan masuk masjid juga terdapat satu toilet dan beberapa kendi untuk berwudhu dan minum. Lantai masjid ditutupi dengan tikar-tikar atau sajadah yang sudah atau hampir usang. Adapun di dalam masjid bagian depan,  terdapat mimbar kecil dengan beberapa anak tangga dari kayu.

Kakek sering membawaku ke masjid sebelum azan Zuhur sambil menggenggam tanganku yang seakan tenggelam dalam genggaman tangan besarnya walaupun dia berjalan pelan-pelan. Usianya kini sudah lebih dari 70 tahun. Tapi rasanya aku tetap harus berlari kecil agar bisa mengikuti ritme langkahnya, hampir-hampir kakek menyeretku bila aku tertinggal jauh darinya.

Kami biasa berdoa di masjid sebelum adzan berkumandang. Aku akan berdiri di sampingnya dan mengikuti apa yang ia lakukan, semampuku. Lalu duduk dan menyandarkan kepalaku di antara kedua tangannya seperti anak yang baik dan penurut. 

Terlihat Syekh Hamid mengeluarkan jam tangan dari saku bajunya. Sudah waktunya adzan. Dia lalu naik ke menara dan mengumandangkan azan. Aku menoleh gembira mendengarkan suaranya yang begitu merdu. 

Syekh Hamid menyelesaikan azan dan turun dari menara. Kemudian terlihat jamaah melakukan salat sunnah. Aku berdiri di samping Kakek untuk menirunya sebisa mungkin. Beberapa tetua kamp kemudian datang dan semua orang melakukan salat Zuhur berjamaah. Jumlah mereka tidak lebih dari sepuluh orang. Semuanya sudah tua kecuali aku dan satu dua anak yang dibawa oleh kakek nenek mereka.

Tampaknya Kakek dan Ibu sudah pasrah dan menerima kenyataan tentang nasib Ayahku yang tak kunjung kami ketahui. Mereka semakin jarang membicarakannya. Atau mungkin menyadari bahwa mereka harus menunggu, karena tak bisa berbuat apa-apa.

Satu-satunya hal baru yang terjadi di rumah kami adalah orangtua Bibi memaksanya untuk menikah lagi. Jelas ini perkara yang tidak mudah. Mereka juga menginap di rumah kami. Ibu turut menemui langsung orang tua Bibi sebagaimana halnya kami. Namun tetap saja hal itu tak bisa  menggantikan rasa sedih atas kehilangan orangtuanya sendiri. Meskipun hal itu sedikit  meringankan rasa kehilangannya. Demikian hari-hari berlalu. 

Seperti biasa, aku akan terbangun oleh suara kakek yang sedang berwudhu dan salat Fajar. Kemudian Ibu bangun dan membangunkan saudara-saudara dan sepupu-sepupuku. Lantas Ibu menyiapkan mereka untuk pergi ke sekolah.  

Kakek pergi ke pasar. Ibu mulai merapikan rumah. Sementara diriku duduk di samping adikku yang masih bayi, Maryam, agar tidak terbangun dan menangis. Selagi Ibu sibuk merapikan rumah, Kakek tiba dari pasar dan saudara serta sepupuku pulang dari sekolah. Lantas Ibu memasak makanan untuk kami makan bersama.

Bersambung ...


Penerjemah : Nidda, Editor : Sabilillah 




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama