THISTLE DAN CENGKIH
Bab : 1
Lanjutan dari Bab 1/ 1
................................................
Bibiku dan kedua putranya menghabiskan malam itu bersama kami. Ayah dan Paman belum juga pulang. Waktu sungguh terasa sangat lama untuk menunggu mereka kembali. Di pagi hari, aktifitas mulai terlihat di jalan-jalan kamp. Masing-masing orang sibuk mencari dan memeriksa keberadaan anak, sanak-saudara, serta para tetangga mereka. Mereka bersyukur kepada Allah atas keselamatan yang diberikan. Selain itu, mereka juga memeriksa keadaan pemilik rumah yang rumahnya hancur atau rusak sebagian.
Sebetulnya sangat mudah kehilangan nyawa saat situasi perang seperti ini. Namun untungnya, sebagian besar penduduk sudah meninggalkan kawasan dan mengungsi ke tepi pantai, hutan atau berlindung di lubang bawah tanah yang telah mereka gali sebelumnya.
Pasukan penjajah Zionis menghadapi perlawanan sengit dari pihak pejuang perlawanan di salah satu distrik, lalu menarik mundur pasukan mereka. Tidak lama berselang, muncul sekelompok tank dan jip militer yang mengibarkan bendera Mesir. Para pejuang perlawanan terlihat sangat bersuka cita dengan datangnya bala bantuan dan dukungan, sehingga mereka keluar dari parit tempat galian mereka sambil melepaskan tembakan ke udara. Mereka bergegas menghampiri tank dan jip itu untuk menyambut kemenangan. Namun saat kendaraan itu mendekat, mereka malah diserang dengan tembakan yang bertubi-tubi. Banyak pejuang perlawanan yang terbunuh. Bendera Zionis Israel naik berkibar pada tank-tank dan jip itu, menggantikan bendera Mesir.
Orang-orang berbondong-bondong mendatangi sekolah terdekat yang merupakan kamp tentara Mesir tepat sebelum meletusnya perang. Masing-masing dari mereka mengambil sisa-sisa barang dan makanan yang ada di sekolah tersebut. Ada yang membawa kursi, meja, sekarung biji-bijian dan peralatan dapur. Daripada meninggalkannya untuk dirampas tentara Israel, orang-orang merasa lebih berhak mewarisi semua barang dan makanan dari tentara Mesir yang sudah meninggalkan tempat itu.
Selain itu, sebagian orang juga merangsek masuk ke beberapa toko terdekat dan mengambil beberapa bahan makanan dan barang. Sebagian yang lain sibuk dengan senjata dan amunisi yang didapatkannya dari kamp Mesir tadi. Kekacauan terjadi selama beberapa hari, sementara semua orang sibuk dalam kepentingan dan kegiatannya masing-masing .
Suatu hari di siang bolong, terdengar pengumuman dari jauh melalui pengeras suara. Dalam bahasa Arab yang terpatah-patah, pengumuman itu menyerukan batasan jam malam. Setiap orang harus tinggal di rumah setelah batas jam tersebut. Dan siapa pun yang meninggalkan rumahnya akan menghadapi kematian. Orang-orang mulai tinggal di rumah mereka. Jip militer yang membawa pengeras suara berkeliling mengumumkan hal ini, lalu meminta semua pria yang berusia di atas 18 tahun untuk keluar dan berkumpul di halaman sekolah bekas kamp terdekat. Siapa pun yang tidak mematuhi perintah dan tidak keluar dari rumahnya, maka akan dibunuh.
Ayah dan Paman masih belum kembali. Dan kakakku Mahmoud, yang tertua di antara kami, usianya dibawah itu. Ketika Kakek berjalan mendatangi sekolah itu, salah satu tentara berteriak dan menyuruhnya pulang ke rumah karena melihatnya sudah renta dan lemah, lalu Kakek kembali ke rumah dengan kebingungan. Setelah beberapa waktu, sejumlah kelompok besar tentara Israel mulai mengawasi distrik dengan senapan di tangan mereka. Mereka menggeledah rumah demi rumah mencari pemuda yang tidak datang ke kamp. Dan ketika menemukan pemuda, mereka sengaja menembaknya tanpa ragu.
Para pria di distrik kami berkumpul di sekolah terdekat, di mana para tentara mendudukkan mereka di tanah lapang dalam sebuah barisan dan mengelilingi mereka dari semua sisi. Para tentara menodongkan moncong senapan ke arah mereka.
Setelah semua pria terkumpul, sebuah jip militer tertutup datang. Seorang pria berpakaian sipil keluar. Jelas dia bagian dari pasukan militer Israel, semua tentara sangat patuh pada perintahnya. Dia memerintahkan para pria yang duduk di tanah untuk satu per satu bangkit dan berjalan melewati depan jip. Mereka mematuhi perintah tersebut. Sesekali klakson dibunyikan saat ada salah satu pria yang berjalan melewati depan jip. Para prajurit bergegas ke arahnya dan dengan kasar menangkapnya. Mereka mulai menyeretnya dengan paksa menuju ke halaman belakang, di mana tingkat penjagaannya dua kali lebih ketat daripada di halaman depan sekolah.
Jelas bahwa siapa pun yang dibunyikan klakson saat melewati depan jip, berarti dia dicurigai sebagai orang yang berbahaya. Begitulah yang terjadi sampai pria terakhir berdiri. Sesekali klakson dibunyikan. Bagi mereka yang lolos, mereka duduk di tepi halaman.
Ketika tugas selesai, pria berpakaian sipil itu memperkenalkan dirinya sebagai "Abu al-Deeb", perwira intelijen Israel yang bertanggung jawab atas distrik tersebut. Kemudian dia berpidato kepada para pria dalam bahasa Arab yang beraksen kental namun dapat dimengerti. Dia menyampaikan realita bahwa setelah kekalahan Arab, dia hanya menginginkan ketenangan dalam wilayahnya. Dan barang siapa yang mengganggu keamanan, tak segan-segan ia eksekusi atau penjara. Dia juga mengatakan bahwa kantornya terbuka untuk siapa saja yang menginginkan layanan apa pun termasuk meminta keamanaan kepada IDF (Israel Defense Army).
Setelah selesai berpidato, dia menyuruh para pria untuk pergi satu per satu dengan tenang tanpa menimbulkan kegaduhan. Mereka mulai bangkit dan kembali pulang, merasa terbebas dari kematian. Namun, sekitar seratus pria yang mereka curigai, tetap mereka tahan.
Perwira itu bergerak dengan jip yang ditumpanginya ke halaman tempat para pria terpilih ini berkumpul. Dia memerintahkan mereka untuk berdiri satu per satu dan berjalan lagi melewati depan jip. Setiap kali klakson dibunyikan, pria itu ditangkap dan disuruh berdiri di dekat tembok dan menghadap padanya, sementara yang lain duduk di tepi halaman.
Terpilih lima belas dari seratus pria, berdiri menghadap tembok. Perwira tersebut mengeluarkan perintah kepada beberapa tentara untuk mengarahkan senapan ke arah mereka. Para tentara duduk berlutut, kemudian membidik dan menembak mereka sampai mati. Pria lainnya dengan keringat yang mengucur, posisi tangan diikat di belakang dan matanya ditutup. Mereka dimasukkan ke dalam sebuah bus yang membawa mereka ke perbatasan Mesir. Tentara yang menggiring memerintahkan mereka untuk menyeberangi perbatasan. Dan siapa pun yang melarikan diri atau berbalik akan ditembak mati.
Penerjemah : Nidda, Editor : Sabilillah

Posting Komentar