Cerpen Arab_SENGKETA LAHAN_oleh Islam al-Hasyimi al-Hamidi, Terj : Nidda Amirotul Qori'ah

Teks asli hubungi kami.

Sengketa Lahan

Sejak zaman kuno, ada banyak kawasan di hutan besar yang dikuasai oleh para binatang. Semua terkenal karena kekuatan dan keunikannya. Dan setiap kawasan dikenali karena kaya akan sumber makanan yang beragam sehingga menyebabkan keserakahan binatang lain untuk merebut kawasan itu. Masalah di antara mereka pun terjadi hingga membuat para binatang terpecah-belah.

Suatu hari, banteng mendatangi beruang dan berkata kepadanya, “Mengapa kamu tidak mengikutiku dan membantuku?”. Beruang menjawab, "Tidak, kau yang ikut denganku. Aku akan tertawa lebih keras dan lebih kuat darimu".

Banteng itu tersenyum lebar dan berkata, "Tidak, akulah yang terkuat, paling tangguh dan paling bijaksana".

Beruang menimpalinya, "Hentikan omong kosongmu atau aku akan membunuhmu".

Banteng itu tertawa dan berkata, "Lihatlah nanti apa yang akan terjadi, kawanku".

Hari berikutnya, babi mendatangi banteng dan mengatakan kepadanya bahwa dia lemah dan tidak mempunyai kekuatan. Dia ingin memiliki sebidang tanah kecil yang cukup untuk dirinya dan keluarga. Banteng itu senang. Dia merasa dirinya penting dan diakui kekuatan dan kehebatannya. Dia berkata, "Aku akan melindungimu. Tanah mana yang ingin kau tinggali?". Babi menjawab, "Tanah yang terletak diantara dua sungai". Banteng mendatangi kawanan unta dan sapi dan mulai melancarkan serangan adu domba kepada mereka, "Beruang itu merupakan ancaman dan bahaya besar bagi kalian, jadi bagaimana menurut kalian jika aku lindungi kalian darinya?". Unta-unta itu berkata, "Ya, ya, ini bagus. Kami adalah komunitas unta dan hewan ternak lainnya sepakat". Banteng melanjutkan rayuannya, "Mmmm, tetapi apa balasan untukku?". Unta menjawab, "Apapun yang kamu inginkan, kami semua akan setuju". Banteng berkata, "Aku tahu bahwa kalian adalah para hewan yang murah hati dan baik. Aku memiliki teman yang tidak memiliki rumah. Babi adalah hewan yang lemah dan kesepian sedangkan kalian adalah sekawanan besar dan tinggal di wilayah luas. Aku minta kalian agar membiarkan babi tinggal di sebidang tanah kecil. Lalu unta-unta itu berkomentar, "Tetapi kami mewarisi tanah ini dari nenek moyang kami. Sedangkan si babi tidak menyukai kami dan sejak dahulu kala. Dia telah lama menginginkan tanah ini diambil seluruhnya untuk dirinya sendiri. Banteng berujar, “Tidak, demi Tuhan, dia adalah makhluk yang baik dan lembut yang mencintai sesama hewan. Dia cinta perdamaian". Singkat cerita, para unta dan ternak setuju dengan permintaan si banteng.

Bermaksud ingin sombong, banteng dan rubah mendatangi beruang dan gajah. Dia berkata, "Sekarang kami telah menempatkan babi di wilayah di antara dua sungai". Si beruang  lantas menyahut : "Wah, ini adalah awal mula kesengsaraan bagi unta dan para ternak lainnya".  Rubah yang tidak mau kalah membela sahabatnya, si banteng, "Justru kami bertindak adil. Kami mencarikan hak-hak setiap binatang untuk mendapat tempat tinggal. Dimana belas kasihanmu?". Gajah menjawab, "Ini adalah awal permusuhan di antara kita yang akan berlangsung selamanya". Dengan bangga banteng berkata, "Sekarang, unta dan para binatang ternak berada di bawah perlindungan kami". Beruang dengan sinis menjawab, "Sejak dulu, kau itu binatang yang tidak memiliki teman. Kau bekerja hanya untuk keuntungan pribadimu saja. Kau hanya bisa memanfaatkan keluguan unta dan ternak dengan janji akan menlindungi mereka. Namun kau adalah pembohong besar.. ". Banteng berkata, "Unta, sapi dan para ternak lain mewakili lebih dari satu jenis hewan dan lebih dari satu kawanan". Rubah menimpalinya, "Tidak apa-apa mereka bertengkar satu sama lain. Ini lebih baik bagi kami. Kami mengambil keuntungan dari mereka dan terus menjadikan kalian sebagai musuh mereka sehingga mereka akan terus meminta perlindungan pada kami sebagai balasannya". Beruang itu berkata, "Gawat, suatu hari mereka akan berbalik melawan kita semua. Kita harus bekerja sama". Banteng tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, apa katamu? Kau menginginkan aliansi? Tidak!".

Banteng dan Rubah pun pergi, mereka berdua merasa menang. Beruang lalu berkata kepada gajah, "Bersiaplah, temanku. Hari yang dijanjikan sudah dekat". Gajah menjawab, "Baik, aku selalu siap".

Si rubah berkata kepada kawanan unta dan para ternak, "Bersiaplah, mereka licik kawan". Banteng menimpali, “Jangan takut, kawan, kami lebih kuat dan hebat".

Hari-hari berlalu. Si babi terus mengambil sebidang tanah setiap hari sampai dia memiliki lebih banyak lagi. Unta dan sapi terus meminta bantuan banteng karena takut pada beruang dan gajah. Para ternak terus berkelahi di antara mereka sendiri. Bukannya bersatu melawan banteng dan beruang, mereka juga tidak bersatu melindungi tanah mereka karena tanah dan sumber daya yang mereka punya dicaplok oleh babi.

 

Menguji Kesetiaan Suami


Suatu hari, seorang laki-laki pulang ke rumah dan makan bersama istrinya tanpa bicara sepatah kata pun. Istrinya memecah keheningan dengan berkata, "Suamiku tercinta, menikah lah lagi untukku".  Mata suami melotot keheranan dia berkata, “Tidak, aku mencintaimu". Sang istri terus membujuknya, "Aku juga mencintaimu, tapi kamu berhak bahagia dan mempunyai anak". Si suami menjawab, "Kehadiranmu bersamaku di dunia ini merupakah kebahagiaan untukku, sayang. Tetapi jika kau menginginkan aku menikah, aku akan melakukannya. Bila di kemudian hari ada konflik antara dirimu dengan istri baruku, kau harus bicara padaku". Sang istri berkata sambil pura-pura menahan air mata bahagia yang bertentangan dengan keinginannya, "Tidak akan terjadi konflik, sungguh. Kita akan memperlakukannya dengan baik".

Hari-hari berlalu. Suami menikah dan membawa istri barunya ke kamar. Dia menutup pintu dan berkata kepada istrinya, “Jangan ganggu dia. Dia sedang kelelahan karena perjalanan. Dia akan pergi tidur. Ketika aku pulang kerja, akan kukenalkan kau padanya. Dia wanita yang cantik dan sedikit sensitif".

Singkat cerita, sang suami pulang kerja dan mendapati istrinya menangis tersedu-sedu. Ketika ditanya, istrinya menjawab, "Istri barumu mengejek dan terus menghinaku. Aku memulai hidupku bersamamu tetapi kamulah yang ingin mengakhirinya". Suaminya berkata, "Apa?! Masuklah ke kamarnya bersamaku dan aku akan memukulinya di depanmu. Sang istri memasuki kamar pengantin dan menemukan istri baru suaminya berdiri dengan memakai gaun pengantin di sudut ruangan. Suami itu kemudian memukul kepalanya dengan keras, dan pecahlah patung pengantin itu. Istrinya terbelalak keheranan. Suaminya lantas berkata, "Syukurlah aku tidak jadi menikah. Permainanmu sungguh luar biasa, istriku”.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama