Pernahkah Anda merasa waktu 24 jam dalam sehari selalu terasa kurang? Kita berlari dari pagi sampai malam, mengurus ini-itu, namun di akhir hari rasanya jiwa kita tetap terasa "kosong". Kita sering kali terjebak dalam kesibukan tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang kita kejar.
Jika Anda sedang berada di fase lelah yang sama, mari sejenak merenungkan sebuah kisah hikmah (قصة وعبرة) yang sangat populer di kalangan pembaca Arab berikut ini. Sebuah eksperimen bisu dari seorang profesor yang akan mengubah cara Anda memandang skala prioritas dalam hidup.
Suatu hari, seorang profesor filsafat berdiri di depan para mahasiswanya. Tak seperti biasanya, kali ini dia membawa beberapa barang yang tidak biasa: sebuah toples kaca besar (seperti toples asinan), beberapa buah bola golf, kantong berisi batu kerikil, sekantong pasir halus, dan secangkir besar kopi panas yang sempat ia seruput sedikit.
Begitu kelas dimulai, sang profesor tidak mengucapkan sepatah kata pun. Beliau langsung memulai aksinya dalam keheningan total.
Pertama, beliau mengambil bola-bola golf dan memasukkannya ke dalam toples kaca tersebut sampai penuh. Beliau lalu menatap para mahasiswanya yang sedari tadi menonton dengan heran, lalu bertanya: "Apakah toples ini sudah penuh?"
Para mahasiswa serempak menjawab, "Sudah, Profesor, sudah penuh!"
Sang profesor kemudian mengambil kantong kedua yang berisi batu-batu kerikil. Beliau menuangkannya ke dalam toples sambil sedikit menggoyang-goyangnya. Perlahan, si kerikil bergerak mencari celah dan mengisi ruang kosong di antara bola golf. Beliau kembali bertanya, "Sekarang, apakah toplesnya sudah penuh?"
Para mahasiswa menjawab lagi, "Iya, sekarang benar-benar penuh."
Tak berhenti di situ, sang profesor mengambil kantong berisi pasir halus. Beliau menuangkannya ke dalam toples sambil mengetuknya pelan. Tanpa sisa, pasir itu mengalir dan mengisi seluruh celah terkecil yang ada. Sekali lagi, beliau bertanya, "Bagaimana sekarang, apakah sudah penuh?"
"Iya, sudah penuh!" jawab para mahasiswa dengan antusias.
Terakhir, sang profesor mengambil cangkir kopinya dan menuangkan sisa kopi hangat itu ke dalam toples. Cairan hitam itu langsung meresap ke dalam pasir tanpa tumpah sedikit pun, membuat para mahasiswa tertawa keheranan melihat eksperimen unik ini.
Sang profesor menunggu sampai tawa mereka mereda dan kelas kembali hening, lalu beliau mulai menjelaskan dengan bijak:
"Saya ingin kalian paham bahwa toples kaca ini ibarat kehidupan kalian masing-masing.
Bola-bola golf ini mewakili hal-hal utama dan paling prinsipil dalam hidup kita: Agama (الدين), keluarga, anak-anak, lingkungan sosial, moral, dan kesehatan. Hal-hal yang jika semua hal lain di dunia ini hilang, hidup kita akan tetap utuh dan bermakna.
Sementara itu, batu kerikil mewakili hal penting lainnya yang menunjang hidup, seperti pekerjaan, mobil, dan rumah. Dan pasir halus mewakili hal-hal kecil, remeh-temeh, dan tak terhitung yang ada dalam keseharian kita."
Beliau melanjutkan, "Jika kalian mengisi toples ini dengan pasir terlebih dahulu, maka tidak akan ada ruang untuk bola golf, begitu juga dengan kerikilnya. Jika kita menghabiskan waktu, energi, dan pikiran hanya untuk hal-hal kecil (seperti urusan duniawi yang sepele atau kesenangan sesaat), kita tidak akan punya ruang lagi untuk hal-hal besar dan abadi seperti ibadah, keluarga, dan kesehatan.
Maka, prioritaskan 'bola golf' kalian terlebih dahulu. Jalankan kewajiban agama dengan baik, luangkan waktu untuk keluarga dan anak-anak, jaga kesehatan Anda. Setelah itu, barulah urus hal penting lainnya seperti pekerjaan atau rumah. Terakhir, barulah beri sisa ruangnya untuk hal-hal kecil."
Saat profesor bersiap membereskan barang-barangnya, salah seorang mahasiswa mengangkat tangan dan bertanya, "Lalu, bagaimana dengan filosofi kopinya, Prof?"
Sang profesor tersenyum lebar dan menjawab, "Pertanyaan yang bagus. Artinya, sepadat dan sesibuk apa pun hidup dan aktivitasmu, selalu ada ruang untuk menikmati secangkir kopi bersama sahabat, saudara, atau orang tercinta."
Intisari Kisah (Ibrah):
- Bola Golf: Simbol prioritas utama (Agama, Keluarga, Kesehatan).
- Kerikil: Simbol kebutuhan sekunder (Pekerjaan, Rumah, Jabatan).
- Pasir: Simbol urusan duniawi yang kecil/remeh.
"Kisah ini disadur dari teks populer Arab yang berjudul قصة الفلسفة والقهوة (Kisah Filsafat dan Kopi)"
Jika diibaratkan sebuah toples, sudahkah kita mendominasi hari-hari kita dengan "bola golf"? Ataukah selama ini energi kita habis terkuras hanya untuk menyaring "pasir-pasir halus"?
Yuk, tulis refleksi atau pendapat Anda di kolom komentar di bawah! Jangan lupa bagikan (share) kisah penuh hikmah ini kepada keluarga dan kerabat terdekat sebagai pengingat bersama.
Baca Juga : Ujian Kejujuran di Bulan Ramadhan

Posting Komentar