4 Cerpen Arab Jenaka Klasik yang Mengocok Perut dan Sarat Makna

 


1. Dua Ekor Monyet dan Pisang

Di sebuah hutan, hiduplah dua ekor monyet yang bersahabat erat. Uniknya, nasib mereka bertolak belakang, yang satu selalu ditimpa kesialan (Si Malang), sedangkan yang lain selalu dinaungi keberuntungan (Si Mujur).

Suatu hari, mereka sepakat untuk mengambil pisang di sebuah perkebunan dekat hutan. Mereka menyusun rencana. Si Mujur akan memanjat pohon untuk memetik dan melemparkan pisang ke bawah, sementara Si Malang bertugas menjaganya di bawah pohon.

Ketika mereka sedang beraksi, pemilik kebun tiba-tiba datang memergoki. Si Mujur yang berada di atas pohon dengan cekatan langsung melarikan diri melompati ranting-ranting sambil membawa sebagian pisang. Sebaliknya, Si Malang yang berada di bawah tidak sempat kabur; ia tertangkap dan dipukuli oleh pemilik kebun hingga babak belur.

Keesokan harinya, kejadian yang sama terulang kembali. Si Mujur berhasil lolos, sementara Si Malang kembali menjadi sasaran amarah pemilik kebun.

Karena merasa tidak adil, Si Malang akhirnya memprotes, "Hari ini kita harus bertukar peran! Aku yang memanjat pohon, dan kamu yang berjaga di bawah." Si Mujur pun menyetujuinya.

Maka, Si Malang memanjat pohon dengan penuh harap, sementara Si Mujur menunggu di bawah. Tak lama kemudian, pemilik kebun datang lagi membawa pentungan. Ia melihat Si Mujur berada di bawah. Namun tiba-tiba, pemilik kebun itu berhenti dan bergumam, "Setiap hari aku selalu memukuli monyet yang di bawah. Sekali-kali, monyet yang di atas pohon itu yang harus kuberi pelajaran!"

Tanpa ampun, pemilik kebun itu memanjat pohon dan menghajar Si Malang untuk ketiga kalinya. Sementara itu, Si Mujur berhasil melarikan diri ke dalam hutan sambil tertawa terbahak-bahak.

2. Lelaki Tua Berjenggot Panjang

Alkisah, ada seorang pemuda yang sangat gemar berbicara. Suatu hari, ia melihat seorang lelaki tua berjenggot putih sangat panjang sedang duduk di dekat pintu pasar. Timbul niat iseng di hati pemuda itu untuk sekadar mengajaknya mengobrol. Ia mendekat, memberi salam, dan bertanya, "Bolehkah saya bertanya satu hal, Kek?"

Lelaki tua itu menjawab dengan ramah, "Silakan, Anak Muda."

Pemuda itu lalu bertanya, "Ketika Kakek tidur di malam hari, apakah jenggot panjang ini diletakkan di atas selimut atau di masukkan ke dalam selimut?"

Lelaki tua itu terdiam seketika. Selama empat puluh tahun memiliki jenggot, ia sama sekali tidak pernah memperhatikan hal sekecil itu. Karena tidak tahu jawabannya, ia berjanji, "Malam ini aku akan memperhatikannya saat tidur. Besok akan kuberi tahu jawabannya."

Keesokan paginya, lelaki tua itu berjalan tergesa-gesa mencari si pemuda di pasar dengan wajah yang sangat letih. Begitu bertemu, tanpa basa-basi, ia langsung memukul pemuda cerewet itu dengan sisa-sisa tenaganya.

"Kurang ajar kamu!" seru lelaki tua itu terengah-engah. "Empat puluh tahun aku hidup bersama jenggot ini, aku tidak pernah merasa terbebani, baik saat makan, minum, maupun tidur. Namun gara-gara pertanyaanmu semalam, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata!"

Ia melanjutkan dengan penuh kekesalan, "Ketika aku meletakkannya di atas selimut, rasanya seperti sedang dicekik. Namun ketika aku memasukkannya ke dalam selimut, rasanya sangat pengap seperti mau mati lemas! Pergilah kamu, jangan pernah mengganggu orang lain lagi dengan pertanyaan konyolmu itu!"

3. Tali Sepanjang Tombak

Seorang pria dihadapkan ke meja hijau untuk diadili. Hakim yang memimpin sidang memandang terdakwa dengan saksama, lalu bertanya, "Apa tuduhan yang diarahkan kepadamu, Saudara?"

Dengan wajah polos dan suara yang tenang, pria itu menjawab, "Sebenarnya tidak ada yang serius, Yang Mulia. Saya hanya dituduh mencuri seutas tali yang panjangnya seukuran tombak."

Hakim mengerutkan dahi karena heran, "Hanya karena mencuri seutas tali pendek seperti itu, mengapa kamu sampai harus diseret ke pengadilan formal ini?"

Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu berbisik pelan, "Tali pendeknya memang tidak seberapa, Yang Mulia... Namun masalahnya, di ujung tali itu ada seekor sapi yang ikut terbawa."

4. Sang Khalifah dan Seorang Penyair

Konon, ada seorang Khalifah yang gemar menggubah puisi. Suatu hari, ia membacakan puisi ciptaannya sendiri di hadapan para pejabat istana dan rakyatnya. Di antara kerumunan itu, hadir pula seorang penyair profesional yang terkenal jujur.

Setelah selesai membaca puisi dengan penuh penghayatan, sang Khalifah menoleh kepada si penyair dan bertanya dengan bangga, "Bagaimana pendapatmu, wahai Pujangga? Bukankah puisiku tadi sangat indah dan bernilai sastra tinggi?"

Si penyair menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan lugas, "Demi Allah, Baginda, saya sama sekali tidak merasakan adanya keindahan sastra sedikit pun pada puisi tadi."

Mendengar hal itu, sang Khalifah merasa sangat terhina. Dengan penuh amarah, ia memerintahkan pengawalnya, "Kurang ajar! Jebloskan penyair ini ke dalam kandang kuda dan keledai!"

Penyair itu pun harus mendekam di dalam kandang hewan yang bau selama satu bulan penuh. Setelah masa hukumannya selesai, Khalifah membebaskannya dan mengundangnya kembali ke majelis istana.

Nahasnya, sang Khalifah kembali ingin memamerkan karya terbarunya dan mulai membacakan puisi lagi. Namun, baru saja bait pertama diucapkan, si penyair tiba-tiba langsung berdiri dari tempat duduknya dan melangkah mengendap-endap menuju pintu keluar.

Sang Khalifah yang melihat hal itu segera berteriak, "Heh, Penyair! Mau ke mana kamu?!"

Si penyair menoleh dengan pasrah lalu menjawab, "Saya mau langsung kembali ke kandang kuda saja, Baginda."

Baca juga : Kisah Inspiratif dari Timur Tengah 


القردان والموز

من قصص الأطفال المشهورة، يُحكى أنه كان في الغابة قردان صديقان أحدهما منحوس والأخر محظوظ بكل الأشياء، وفي يوم من الأيام اتفق القردان على أن يذهبا إلى مزرعة على مقربة منهما لجلب الموز وتناوله، ووضعا خطة لذلك تقتضي أن يبقى القرد المنحوس على الأرض فيما يصعد القرد المحظوظ إلى شجرة الموز ليقطفه ويلقيه للمنحوس في الأسفل.

رأى المزارع القردان وهما يسرقان الموز فأمسك القرد المنحوس وأبرحه ضرباً فيما هرب القرد المحظوظ وهو يمسك قطف الموز، وفي المرة الثانية تكرر ما حصل وأبرح المزارع القرد المنحوس ضرباً أيضاً، إلى أن قرر القردان أن يتبادلا الأدوار فصعد القرد المنحوس ليقطف الموز هذه المرة، فيما بقي المحظوظ على الأرض، وعندما رآهما المزارع أمسك القرد المحظوظ ليضربه، إلا أنه قرر أن يضرب القرد الموجود في أعلى الشجرة هذه المرة لا الموجود في أسفلها كما يفعل دائما، وبذلك أبرح القرد المنحوس ضرباً للمرة الثالثة على التوالي فيما فرّ القرد المحظوظ ضاحكاً..

العجوز ذو الذقن الطويل

يحكى أنّ شاباً ثرثاراً رأي شيخاً كبيراً ذو دقن طويلة غزاها الشيب يجلس مرّة على باب سوق، فأراد هذا الشاب أن يبدأ معه حديثاً يسليه به، فأتى إليه وسلّم عليه وقال له: هل بسؤال يا عم؟ فقال له الشيخ الكبير تفضّل يا بني، فقال الشاب: أتضع ذقنك هذه فوق اللحاف عند نومك يا عماه أم تحته ؟ سكت العجوز برهة ولم يعرف لسؤال هذا الشاب جواباً، ذلك لأنه لم يتفطن لما يفعله به عند نومه من قبل، لكنه وعده أن يلاحظ ما هو فاعل به عندما ينام الليلة..

في الصباح انطلق العجوز باحثاً عن الشاب في السوق بكل عزمه، ولمّا لقيه سلّم عليه وانهال عليه ضرباً وقال له: أربعون عاماً وأنا أحمل ذقني أينما حللت ولا أشعر منه بثقل لا في نوم، ولا في طعام ولا في شراب، أما الليلة فقد جافاني النوم ولم أعرف له طريق، إن رفعتها فوق اللحاف أحسست بأنني مشنوق، وإن وضعتها تحت اللحاف أحسست بأنني مخنوق، فاذهب لا بارك الله في أعدائك ولا سلّطك بثرثرتك هذه على أحد.

حبل بطول الرمح

قدم رجل مرّة لقاضٍ ليحكم في أمره، فسأله القاضي: ما تهمتك يا رجل ؟ فقال له الرجل بهدوء: لا شيء يا سيدي سوى أنني سرقت حبلاً بطول الرمح، فقال القاضي مستغرباً: وهل قدّمت للمحاكمة بتهمة سرقة هذا الحبل القصير؟ فطأطأ الرجل رأسه وقال: نعم يا سيدي، فقد كان في آخر الحبل بقرة.

الخليفة والشاعر

يُذكر أن خليفةً أنشد قصيدة أمام مدعوويه وحاشيته، وكان بينهم شاعر، فبعد أن انتهى الخليفة من إلقاء قصيدته التفت إلى الشاعر وسأله: هل أعجبتك القصيدة يا شاعر ؟ أليست بليغة؟ فأجابه الشاعر: لا أشم بها رائحة البلاغة والله.!

فغضب الخليفة وأمر أن يُحبس هذا الشاعر في الإصطبل مع الخيول والحمير، فظل الشاعر محبوساً في الإصطبل شهراً كاملاً، ولمّا أُفرج عنه الخليفة وعاد إلى مجلسه عاد الخليفة إلى إلقاء الشعر وقبل أن ينتهي من الإلقاء نهض الشاعر وهم بالخروج من المجلس خلسة، فلمحه الخليفة ثم سأله: إلى أين يا شاعر ؟ فأجاب الشاعر: إلى الإصطبل يا مولاي.

 

 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama