Ulat Bulu yang "Terbang"
Dudu adalah seekor ulat bulu yang setiap hari merayap dan menggali tanah. Hari-harinya selalu sama: melintasi jalan yang sama dan melihat pepohonan yang itu-itu saja.
Dengan nada sedih, Dudu berkata, "Andai saja aku punya kekuatan sihir agar bisa terbang dan melihat hutan dari atas."
Ia lalu menatap ke atas dengan penuh penyesalan, "Aku di sini tidak bisa berbuat apa-apa."
Pohon Pohon Sutra (Murbai) yang besar mendengar keluhannya. Pohon itu berkata dengan penuh kasih, "Kamu salah, Dudu. Kamulah yang menggemburkan tanah di sekitarku dan mengalirkan udara ke akar-akarku. Aku bisa hidup subur berkat bantuanmu."
Dudu terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya sangat membantu sang pohon.
Pohon itu melanjutkan, "Aku punya ide. Panjatlah dahan-dahanku perlahan, aku akan membantumu."
Dudu pun memanjat dahan demi dahan hingga sampai di daun yang paling tinggi. Dari sana, ia bisa melihat seluruh isi hutan, pepohonan, bunga-bunga, serta sungai jauh di sana yang memancarkan warna biru jernih.
Pohon Sutra tersenyum sambil menggoyangkan daun-daunnya dengan lembut. Dudu merasakan embusan angin sepoi-sepoi membelai tubuhnya. Ia memejamkan mata dan tersenyum.
"Aku terbang... Terima kasih, Pohon yang baik," bisik Dudu.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara halus dari sela-sela dedaunan. Sebuah telur kecil yang menempel di bawah daun berkata, "Andai aku punya kekuatan super agar bisa menggali tanah dan melihat apa yang ada di dalamnya."
Dudu dan Pohon Sutra saling pandang, lalu tersenyum.
Dudu berkata, "Jangan khawatir, Telur Kecil. Kamu tidak perlu kekuatan super, aku yang akan membantumu." Dari sanalah, sebuah kisah persahabatan baru dimulai.
Keledai yang Dikerjai Balik
Seorang pedagang garam terbiasa membawa karung garam di atas punggung keledainya setiap hari menuju pasar. Di tengah perjalanan, mereka harus melintasi sebuah aliran air kecil. Suatu hari, sang keledai tersandung hingga karung garamnya terlempar ke air. Sebagian garam melarut, membuat beban di punggungnya jauh lebih ringan saat diangkat kembali. Keledai itu pun merasa sangat gembira.
Ia mulai berpikir untuk mengulangi hal yang sama setiap hari agar bebannya selalu ringan. Pedagang garam yang menyadari kecerdikan keledainya berniat memberikan pelajaran berharga. Beberapa hari kemudian, ia mengganti karung garam di punggung keledai dengan karung berisi kapas. Saat keledai sengaja menjatuhkannya ke air dan mencoba membawanya kembali, karung itu bukannya makin ringan, melainkan menyerap air hingga bebannya menjadi sangat berat. Keledai itu pun harus bersusah payah membawanya sampai ke pasar.
Keledai tersebut akhirnya memetik pelajaran dan tidak pernah lagi mengulangi trik tersebut. Sang pedagang pun merasa lega dan bahagia.
Orang Bijak dan Leluconnya
Di sebuah desa terpencil, hiduplah seorang pria bijak. Para penduduk desa kerap mendatangi dirinya hanya untuk mengeluhkan masalah yang sama berulang kali. Sang pria bijak pun berpikir keras mencari cara terbaik untuk menasihati mereka, hingga akhirnya sebuah gagasan terlintas di benaknya.
Suatu hari, sang pria bijak menceritakan sebuah lelucon yang jenaka. Seluruh penduduk desa tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
Dua menit kemudian, ia menceritakan lelucon yang sama persis. Kali ini, hanya beberapa orang saja yang tersenyum.
Beberapa menit berlalu, ia kembali mengulang lelucon tersebut. Namun, kali ini tak ada satu pun orang yang peduli ataupun tersenyum.
Sang pria bijak tersenyum lalu berkata kepada mereka, "Kalian tidak bisa tertawa berulang kali pada lelucon yang sama, lantas mengapa kalian tak pernah berhenti menangisi masalah yang itu-itu saja?"
Sahabat Sejati
Dua orang sahabat sedang berjalan melintasi padang pasir. Di tengah perjalanan, mereka terlibat perdebatan sengit hingga salah satu dari mereka menampar temannya.
Sahabat yang ditampar merasa sangat kesakitan, namun ia tidak mengucap sepatah kata pun. Ia hanya membungkuk dan menuliskan sesuatu di atas pasir:
“Hari ini sahabat terbaikku menampar mukaku.”
Mereka terus berjalan hingga menemukan sebuah oase, lalu memutuskan untuk mandi dan beristirahat menyegarkan diri. Saat hendak mendekati oase, sahabat yang ditampar tadi terjebak di lumpur hisap dan hampir tenggelam. Dengan sigap, sahabatnya menolong dan menariknya keluar dari bahaya.
Setelah selamat dari bahaya, ia membungkuk dan memahat sebuah kalimat di atas batu karang:
“Hari ini sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku.”
Sahabat yang menampar sekaligus menyelamatkannya bertanya heran, "Mengapa saat aku menyakitimu, kamu menulisnya di atas pasir, tetapi saat aku membantumu, kamu memahatnya di atas batu?"
Sahabatnya tersenyum dan menjawab:
"Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin pengampunan dapat menghapusnya. Namun, ketika seseorang berbuat baik kepada kita, kita harus memahatnya di atas batu agar kenangan itu tidak akan pernah terhapus oleh angin."

Posting Komentar